Monday, August 6, 2007,10:10 AM
Asal-usul Tuhan
I
Suatu hari saya ditanya oleh seorang kenalan. Seperti mahasiswa dari keluarga baik-baik pada umumnya, dengan sopan dia bertanya: “Mas ...sebenarnya antum percaya pada adanya Tuhan nggak sih?”. Dia bertanya demikian karena, katanya, tersebar ‘fitnah’ tentang saya di kalangan mahasiswa bahwa saya adalah sejenis ateis atau orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada. Naudzubillah min dzalik. Berani betul dia bertanya seperti itu pada senior. Sungguh terkutuk orang-orang yang memfitnah sedemikian itu pada orang yang percaya Tuhan. Saya terhenyak sejenak. Tapi saya mencoba menjadi seperti orang dari keluarga baik-baik pada umumnya yang tidak mudah marah oleh pertanyaan menggugat seperti itu. Saya juga tidak balik bertanya dengan angkuh seperti orang dari keluarga tidak baik-baik tentang apa sih ‘percaya’, ‘adanya’, dan ‘Tuhan’ menurut dia. Kalau ya, saya jamin dia pun akan kelabakan menjawabnya. Pertanyaan ini sulit bukan pada jawabannya, tetapi pada arti kata-kata pembentuk kalimatnya. ‘Percaya’, ‘adanya’, dan ‘Tuhan’ adalah kata-kata yang sulit dijawab sekali ucap tanpa pikir-pikir dulu. Apalagi bila mereka dirangkai menjadi pertanyaan tunggal ke hadapan saya yang cuma manusia biasa dan tidak tahu-menahu soal Tuhan. Seperti orang dari keluarga baik-baik pada umumnya, saya menjawab bahwa saya percaya pada Tuhan dan semua cerita di kalangan mahasiswa itu hanyalah isapan jempol belaka. Seperti mahasiswa dari keluarga baik-baik pada umumnya, dia pun lega mendengarnya.

Sebagai manusia biasa yang bersyukur memperoleh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi dan bisa membaca buku, saya tidak diberi pengetahuan-pengetahuan bawaan atau wahyu tentang Tuhan. Satu-satunya sumber pengetahuan saya tentang Tuhan adalah pengajaran agama dari semenjak kanak-kanak oleh ustad desa hingga dewasa oleh dosen PAI. Rekan-rekan baik budi dan berpengetahuan agama yang jauh lebih banyak dari saya yang cuma seorang anak petani dari kampung, juga sumber pengetahuan saya tentang Tuhan.

Malamnya, saya pikir pertanyaan rekan dari keluarga baik-baik itu selesai sampai di situ. Tetapi nyatanya belum. Tidak seperti orang dari keluarga baik-baik pada umumnya, saya lalu bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang persis seperti diajukan kawan mahasiswa dari keluarga baik-baik itu: “Apakah aku percaya adanya Tuhan?”. Apa itu: ‘Percaya’..’adanya’.. dan...’Tuhan’?

Berdasarkan pengalaman, saya percaya pada sesuatu karena memiliki pengetahuan tentangnya. Mustahil percaya pada sesuatu tanpa tahu pada sesuatu itu. Saya tidak mungkin percaya bahwa api itu panas tanpa tahu apa itu api. Meskipun saya tidak harus merasakan langsung panasnya api, tapi saya harus tahu apa itu api. “Saya benar-benar percaya bahwa api itu panas”, seorang konyol menyatakan kepercayaan. “Oo begitu ya. Tapi api itu apa sih?”, tanya yang lain. “Nggak tahu”. Ini konyol. Benar-benar suatu hil yang mustahal bila percaya bahwa es itu dingin tapi tidak tahu apa itu es. Jadi, saya harus tahu dulu sebelum percaya. Nah, inilah yang paling sulit berkaitan dengan pertanyaan kawan mahasiswa itu. Saya harus tahu dulu ‘apa’ itu Tuhan; atau apa itu ‘bukan-Tuhan’ sebelum percaya bahwa Tuhan ada atau tidak. Daripada saya dituduh ateis lagi, lebih baik dihindari saja dulu bagian ini. Lebih baik kita bahas saja soal pengetahuan dan ‘percaya’.

Kalau tidak salah, David Hume (1711-1776), seorang filsuf Pencerahan kelahiran Skotlandia, berpandangan bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman. Pandangan ini berseberangan dan merupakan tanggapan atas filsafat pengetahuan Renè Descartes (1596-1650) yang berpandangan bahwa manusia mempunyai pengetahuan-pengetahuan bawaan yang melekat pada substansinya. Pengalaman hanya mengingatkan kembali apa yang sudah ada dalam rasio. David Hume bilang “Tidak”. Tidak ada pengetahuan apa pun tentang sesuatu sebelum kita mengalaminya. Menurut Hume ada dua jenis pengetahuan yang dibedakan berdasarkan proses perolehannya. Pertama adalah kesan atau pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Pengetahuan yang diperoleh dari kesan ini bersifat jelas, ‘hidup’, dan kuat. Misalnya, pengetahuan bahwa ‘api itu panas’ yang diperoleh dari menyentuh api secara langsung akan lebih jelas dan kuat ketimbang pengetahuan bahwa ‘api itu panas’ dari buku pelajaran fisika atau cerita orang. Begitu pula pengetahuan tentang ‘sakitnya’ ditinggal kawin oleh pacar yang dialami langsung, akan lebih jelas dan kuat daripada pengetahuan yang diperoleh dari sinetron atau roman.

Jenis pengetahuan kedua adalah gagasan atau pengetahuan yang diperoleh dari hasil mengkaitkan atau menyambung-nyambungkan berbagai kesan dan pengetahuan lain yang telah didapat sebelumnya. Dibandingkan dengan kesan pertama ‘yang begitu menggoda’, pengetahuan yang diperoleh tidak secara langsung dari pengalaman ini tidak sejelas, sehidup, atau sekuat kesan. Gagasan merupakan hasil proses berpikir, mengingat, membandingkan, menghubungkan, atau mengkhayalkan. Sebagian besar pengetahuan manusia adalah gagasan. Oleh karena itu pengetahuan kita tentang sesuatu seringkali kabur atau sekadar remang-remang saja.

Pengetahuan yang kita miliki, entah berupa kesan maupun gagasan, merupakan dasar kepercayaan kita pada sesuatu dalam hidup kita. Benar-benar tidak masuk akal bila kita percaya pada Tuhan tanpa tahu apa (atau siapa) Tuhan. Jadi, pengetahuanlah yang membuat kita percaya. Termasuk percaya pada ‘diri’ kita. Apakah diri kita sudah ada sebelum kita hidup di dunia? Apakah substansi saya sebagai ‘makhluk berpikir’ sudah ada ‘masternya’ sebelum saya lahir di dunia dan mengalami hidup ini? Saya percaya bahwa ada ‘suatu’ saya yang mendasari kesayaan saya saat ini. ‘Suatu kesayaan’ ini sudah ada, paling tidak ketika kita berada di rahim ibu. Atau seperti teori gagasan Plato, ‘kesayaan’ saya sudah ada di dunia gagasan sebagai asal-usul ‘kesayaan’ saya yang fana di dunia. Kesayaan saya itu, entah sebagai kesadaran atau ruh, akan tetap ada bahkan setelah saya mati. Saya punya substansi ke-saya-an atau dasar kegue-bangetan saya (substansi) sebagai landasan yang di situ berbagai atribut kesayaan (esensi) melekat. Bersebrangan dengan Descartes yang percaya bahwa hakikat ‘saya’ ada dan ia adalah kesadaran yang berpikir (cogito), Hume bilang bahwa tidak ada yang namanya ‘hakikat kesayaan’ yang menopang semua atribut atau esensi saya sebagai subjek. Tidak ada hakikat ‘Saya’; yang ada cuma serangkaian atau sekumpulan kesan-kesan yang datang silih-berganti dan terus-menerus. Yang ada hanyalah kesan-kesan “Saya yang marah”, “Saya yang sedih”, “Saya yang sakit”, “Saya yang kepanasan”, “Saya yang seberat 55 kg”, “Saya yang kedinginan”, “Saya yang lapar”, dst, yang sambung-menyambung menjadi satu. Itulah saya. Semua kesan tentang ‘saya’ tersebut kemudian menjadi sebuah gagasan atau pengetahuan yang mendasari ‘kepercayaan’ terhadap ‘hakikat’ saya sebagai manusia individual. Kesan-kesan yang terkumpul sepanjang hidup melalui jutaan pengalaman itulah, baik langsung maupun tidak, yang membuat kita percaya bahwa ada hakikat atas ‘kesayaan’ saya. Kita seringkali mengira bahwa di balik (di bawah, di atas, di samping terserah anda mau menempatkan) semua gejala tersebut ada suatu dasar atau landasan yang tetap yang disebut ‘substansi’, tapi, menurut Hume, sebenarnya itu hanya ‘kepercayaan’ saja bukan kenyataan. Sejalan dengan pengalamannya, manusia berubah. Hanya manusia yang tidak mengalami sesuatu saja yang tidak akan berubah; dan ini mustahil. Kita selalu berubah. Hal ini terjadi karena bertambahnya pengalaman berarti bertambah pula kesan-kesan yang merupakan bahan dasar ‘pembuatan’ ‘kesayaan’ manusia. Karena perubahan itu tidak serta-merta dan terjadi sepanjang waktu, maka seolah-olah ada suatu ‘keajegan’ yang kemudian dipercaya sebagai substansi.

Wah, sepertinya Pak Hume memang pantas dilarang menjadi dosen di Inggris. Kalo begitu teorinya, berarti kehidupan setelah kematian dengan segala ganjaran dan hukuman yang diterapkan kepada ‘jiwa individual’ menjadi omong kosong tukang ngarang. Kalau kita sekadar sekumpulan kesan-kesan, maka pada dasarnya ‘diri’ kita tidak ada sehingga konsep teologis ‘pengadilan atas jiwa-jiwa individual di akhirat’ menjadi kosong tak berarti. (bagi pembaca dari keluarga baik-baik, lebih baik pembacaannya cukup sampai paragraf ini saja-pen.)

II
Lalu bagaimana dengan Tuhan? Adakah Dia Yang Mahakuasa itu? Hampir semua orang yang saya kenal keberatan menjawab ‘tidak’ bila ditanya tentang keberadaan Tuhan. Kita percaya pada adanya Tuhan (seperti halnya saya percaya Tuhan). Kita tinggal dan mengalami hidup dalam masyarakat yang percaya Tuhan. Semenjak kecil kita dididik untuk percaya pada Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan sudah ditanamkan sedari kita bisa bicara. Sekolah-sekolah juga dengan giat menyebarkan pengetahuan itu. Dengan semangat pengabdian yang luar biasa para pendidik berbudi luhur mendirikan sekolah-sekolah agama bagi kanak-kanak. Dengan semangat religius yang luar biasa pula, para orangtua kadang rela membayar mahal untuk sekolah-sekolah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa calon menantu yang baik adalah dia yang percaya pada Tuhan. Terkutuklah mereka yang tidak mempercayai-Nya. Terkutuk pula dia yang coba-coba untuk tidak mempercayai adaNya.

Benarkah kita percaya pada keberadaan-Nya? Apakah yang selama ini telah kita perbuat merupakan cermin bahwa kita percaya pada adanya Tuhan? Bila kepercayaan merupakan hasil rumit dari olah pikiran atas berbagai pengetahuan, apakah percaya adanya Tuhan juga ‘hanya’ hasil olahan pengetahuan yang kita peroleh selama ini? Untuk apa kita ‘harus’ percaya pada sesosok Tuhan? Dari manakah kebutuhan akan kepercayaan pada Tuhan itu berasal?

Dua minggu lalu kita sudah mengenal dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan teoritis dan pengetahuan eksistensial. Kepercayaan yang diperoleh dari pengetahuan langsung bersifat kuat, jernih, dan ‘mendalam’. Saya percaya bahwa api itu panas karena saya pernah menyentuh api dan ternyata memang panas. Saya percaya bahwa salju itu dingin karena saya pernah membaca bahwa salju itu dingin. Kedua jenis ‘percaya’ ini berbeda ‘rasanya’ bagi saya. Yang pertama (api) saya percayai panasnya secara eksistensial; seluruh ‘diri’ saya ikut merasakannya. Sedangkan yang kedua (salju) saya percayai dinginnya secara teoritis; hanya ‘akal’ saya saja yang merasakannya lewat kemampuannya melakukan asosiasi dan analogi. Dalam benak terpikir mungkin dinginnya salju sama dengan es krim atau batu es; tetapi tidak pernah saya percaya seratus persen karena tidak pernah ‘mengalami’ salju secara langsung. Karena seumur hidup belum pernah melihat salju dan menyentuhnya secara langsung, maka kepercayaan saya pada salju yang dingin tidak sekuat kepercayaan saya bahwa api itu panas.

Sebagian besar pengetahuan kita tentang Tuhan adalah pengetahuan tak langsung. Tuhan hadir dalam bentuk konsep yang diajarkan guru agama dan buku-buku. Seperti komentar teman saya yang ateis: “Tuhan cuma akal-akalannya ‘akal’”. Katanya, dengan kemampuan analogi, asosiasi, dan imajinasinya, akal menjalin-jalinkan berbagai pengetahuan dari kesan dan gagasan yang kita peroleh sepanjang hidup. Atribut Tuhan yang selama ini kita pelajari sebagai Mahakasih, Mahabaik, Mahakuasa, Yang Di Atas, dan sebagainya tiada lain hanyalah pengetahuan teoritis saja atau gagasan. Wah, rupanya teman saya itu terlalu banyak membaca David Hume. Kita harus hati-hati dengan pemikiran David Hume yang rada ateis itu. Karena bila tidak, kita akan terjebak dan bisa-bisa kita meragukan bahwa Tuhan itu ada. Hume pernah bilang bahwa “gagasan mengenai Tuhan sebagai ‘Ada’ yang Mahatahu, Mahabijaksana, dan Mahabaik muncul dari permenungan atas kegiatan jiwa kita sendiri dan atas gradasi tak terhingga dari sifat-sifat kebaikan dan kebijaksanaan”. Jadi kitalah yang menciptakan Tuhan dengan memenyambung-nyambungkan kesan-kesan empiris ‘baik’, ‘bijaksana’, ‘kasih’, dan sebagainya. Jika kita tidak mengenal ‘baik’, ‘bijaksana’, ‘kasih’, dan sebagainya itu, maka kita tidak akan mempunyai gagasan tentang Tuhan yang kepadaNya kita lekatkan berbagai atribut tersebut. Pandangan Hume ini dengan fasih diungkap kembali oleh Ludwig Feuerbach bahwa bukan Tuhanlah yang menciptakan manusia, tetapi manusia yang menciptakan Tuhan sesuai citranya.

Tapi untuk apa kita percaya pada Tuhan? Apakah percaya pada Tuhan Mahabaik membuat manusia lebih baik dan tidak lagi membantai manusia lainnya? Apakah dengan percaya pada Tuhan Mahakasih membuat manusia tidak lagi menjadi penghisap jahat dan tidak lagi menghisap manusia demi keuntungannya sendiri?

Sebuah kepercayaan muncul sebagai pemenuhan kebutuhan akan sandaran; sebagai sumber jawaban yang bisa dicopy-paste untuk menjawab persoalan hidup yang kita alami dan harus dijawab. Kepercayaan pada Tuhan, kata Friedrich Nietzsche (1844-1900), muncul dari kehendak-untuk-percaya. Manusia butuh sesuatu yang ‘stabil’, yang tak tergoyahkan, agar ia bisa menyandarkan diri. Seperti sudah kita bicarakan minggu lalu, ketika saya mengalami penderitaan, ‘percaya pada Tuhan’ menyediakan banyak penjelasan atas penderitaan yang saya alami. Dengan adanya sosok Tuhan, kita bisa bicara soal “semua yang terjadi selalu ada hikmahnya”, “orang sabar disayang Tuhan”, “mengapa Engkau timpakan kesengsaraan ini padaku?”, ‘suratan takdir’, atau ‘semuanya hanyalah cobaan’. Bayangkan bila kita tidak percaya pada Tuhan. Apa artinya ‘hikmah’, ‘disayang Tuhan’, ‘suratan takdir’, dan sebagainya itu. Ke mana kata atau frase-frase itu akan kita sandarkan? Itulah mengapa orang paling sengsara di dunia ini adalah teman saya yang ateis. Karena ketika dia mengalami penderitaan dan tidak ada teman yang bisa diajak curhat, maka tidak ada siapa-siapa lagi.

Bila George Berkeley (1685-1753) bilang tentang esse est percipi; atau ‘sesuatu ada karena dipersepsi’, maka teman saya yang ateis bilang tentang ‘sesuatu ada karena dibutuhkan’. Tuhan diciptakan manusia sebagai tiang sandaran di kala susah. Ketika kita tidak mampu memerintah diri sendiri, karena untuk itu kita harus menanggung semua resiko atas pilihan sendirian, atau merasa terserak-serak dan bingung: di situlah ada sesuatu dalam diri yang butuh untuk bersandar. Kita akan mencari apa pun di luar diri kita untuk bisa dipegangi. Tuhanlah satu-satunya sesuatu ‘di luar’ diri kita yang paling kokoh berada. Agama menyediakan Tuhan sebagai pegangan dan tempat berteduh. Kita akan merasa kuat berkat pegangan yang kita miliki. Kita tidak akan menggigil kedinginan oleh penderitaan karena Tuhan adalah tempat berteduh yang paling hangat. Kita tidak akan khawatir pada masa depan karena di sana ada Tuhan dengan seperangkat suratan takdir dan ‘hikmahnya’.

Seperti biasa, di akhir permenungan, malam mulai larut. Tanpa sengaja dan mungkin ini adalah godaan setan yang terkutuk, saya membaca beberapa potong kata sebagai berikut:

Tuhan tidak ada
Tuhan telah mati!
Surga kosong
Menangislah wahai anak-anak,
Kalian tidak memiliki Bapak!
(Jean-Paul Frédéric Richter)

Apakah kalian mendengar suara lonceng?
Berlututlah,
Sakramen untuk Tuhan yang sekarat sedang dibawa!
(Henri Heine)

Orang sinting itu masuk ke dalam gereja yang berbeda-beda
Dia mulai menyanyi-nyanyikan lagu Requiem aeternam Deo
(Friedrich Nietzsche)

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤