Monday, August 6, 2007,10:48 AM
Kelas atau penggolongan berdasarkan hubungan produksi
Bacaan:
1. Kapital Buku III Bab 52 Kelas-kelas, h. 956-7.
2. Brumaire XVIII Louis Bonaparte Bab Ikhtisar, h. 122-140.
3. The Communist Manifesto Bagian I Bourgeois and Proletarians [1848, MSW h. 221-231]

Sering ada beda arti pengunaan istilah dalam bahasa sehari-hari dengan bahasa keilmuan. Tetapi, istilah atau konsep-konsep dalam bidang keilmuan tidak muncul begitu saja dari pikiran seorang jenius. Konsep-konsep hanyalah pantulan tak langsung dari kenyataan teralami yang diramu kemampuan manusia berpikir. Paling tidak, konsep adalah perkakas yang dibuat manusia untuk mengkomunikasikan suatu kondisi material. Contohnya adalah konsep kelas yang akan kita bahas kali ini.

Pertemuan yang lalu kita sudah bicarakan soal ragam produksi. Setiap kolektif manusia harus mengorganisasi kegiatan-kegiatan memproduksi pemenuhan kebutuhan dan penyaluran hasil-hasilnya. Di dalam pengorganisasia itu, diurus juga soal kepemilikan atas kekuatan-kekuatan produktif seperti tanah, perkakas kerja, pengetahuan, dan tenaga kerja manusia.

Sepanjang sejarah, ada dua jenis kepemilikan, yaitu kepemilikan komunal dan kepemilikan pribadi. Dalam kepemilikan komunal, kekuatan produktif bukanlah milik siapa-siapa sekaligus menjadi milik siapa pun. Sedangkan dalam kepemilikan pribadi, kekuatan produktif bisa menjadi milik seseorang. Ketika tanah, perkakas kerja, atau tenaga kerja menjadi milik pribadi, maka hanya pemiliknya saja yang boleh mengambil manfaat darinya. Orang lain bisa memperoleh manfaatnya hanya dengan syarat yang ditentukan oleh pemilik (atau golongan pemilik). Ambil contoh: kalau saya tidak punya lahan dan ingin memproduksi padi di atasnya saya bisa 1) menyewanya sesuai nilai yang ditentukan pemilik, 2) mengerjakannya dengan cara bagi-hasil dengan pemilik, atau 3) menjual tenaga kerja kepada pemilik tanah untuk bekerja beberapa jenis pekerjaan di lahan tersebut (seperti menanam atau memanen). Dengan lain perkataan, saya harus memasuki hubungan produksi tertentu untuk mengambil manfaat dari lahan tersebut.

Nah, kelas terkait dengan kedudukan sekelompok orang dalam hubungan-hubungan produksi yang ada dalam masyarakat. Ketika kekuatan produktif diorganisasi sebagai milik pribadi, maka akan ada orang-orang yang memiliki dan ada yang tidak. Karena sebagian orang tidak punya ‘hak’ untuk memperoleh manfaat dari kekuatan produktif tersebut kecuali menyetujui syarat-syarat yang diajukan golongan pemilik, maka mereka yang tak bermilik harus memasuki hubungan sosial yang menempatkannya di bawah pemilik. Dengan demikian, masyarakat terpilah ke dalam kelas-kelas yang berbeda hubungannya dengan kekuatan produktif pokok. Kelas selalu terkait dengan ketidaksetaraan. Kelas adalah penggolongan berdasarkan peringkat, dan ukuran peringkat itu adalah kepemilikan.

Kelas hanya muncul dalam masyarakat yang mengenal kepemilikan pribadi atas kekuatan produktif. Masyarakat dengan lembaga kepemilikan pribadi sudah muncul sejak kemunculan negara kota pertama di Delta Mesopotamia dan Lembah Nil. Sejak itu, masyarakat selalu terpilah ke dalam kelas-kelas. Meski di luar hubungan produksi ada berbagai hubungan sosial yang melandasi penggolongan orang-orang (seperti hubungan jender yang menggolongkan orang-orang ke dalam kategori laki-laki/perempuan, usia yang menjadi dasar penggolongan junior/senior), tetapi penggolongan kelas selalu saja menjadi penggolongan utama. Pada masyarakat dengan ragam produksi perbudakan, masyarakat terutama dipilah ke dalam golongan budak dan orang bebas. Di dalam feodalisme orang-orang terpilah ke dalam lapisan tuan tanah dan hamba sahaya. Di dalam kapitalisme, masyarakat terpecah ke dalam kelas kapitalis dan proletar.

Dalam Das Kapital Jilid III, Marx bicara juga soal kelas dalam masyarakat kapitalis. Ragam produksi kapitalis bertumpu pada tiga batu penjuru, yaitu tanah, kapital, dan tenaga kerja. Tanah, kapital, dan tenaga kerja merupakan unsur-unsur terpenting yang memungkinkan kegiatan produksi kapitalis berjalan. Tanah (atau ruang-ruang di muka bumi) penting sebagai tempat kegiatan produksi dijalankan. Sedangkan kapital penting untung mengadakan perkakas kerja dan membeli tenaga kerja. Tenaga kerja sendiri, yang didudukkan Marx sebagai kapital pengubah (variable capital) merupakan pencipta nilai-lebih yang menjadi laba kapitalis. Jadi, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan dalam proses penghisapan demi laba.

Bila tanah, kapital, dan tenaga kerja sangat pokok dalam kapitalisme, maka ada tiga kelas pokok dalam kapitalisme, yaitu pemilik tanah, kapitalis, dan pekerja. Ketiganya dibedakan dari sumber pendapatan pokoknya, yaitu pemilik tanah dari sewa lahan, kapitalis dari laba, dan pekerja dari upah. Pemilahan ini tentu hanya pemilahan kasar berdasarkan tiga hubungan produksi pokok yang paling dominan dalam kapitalisme. Di luar pemilahan ini tentu ada banyak lagi hubungan produksi yang tidak pokok dan karenanya kelas-kelas di luar kelas utama bukalah kelas-kelas pokok. Di masa awal pertumbuhan kapitalisme industri, tuan-tuan tanah merupakan pelaku penting ekonomi. Mereka adalah sisa-sisa bangsawan feodal yang menguasai sejumlah lahan luas yang disewakan kepada kapitalis. Pertanyaannya, saat ini masih pentingkah kategori pemilik tanah dalam penentuan kelas-kelas pokok dalam kapitalisme?

Draft UU PMA yang baru memungkinkan kapitalis menyewa lahan di wilayah NKRI lebih dari 100 tahun. Lahan-lahan hutan di Kalimantan, sampai sekarang masih disewakan kepada perusahaan-perusahaan penambangan atau pengambil kayu. Begitu pula lahan-lahan di Sumatra disewakan kepada kapitalis perkebunan sawit. Jadi, dengan hukum pertanahan kapitalistik, negara adalah tuan tanah terbesar dalam kapitalisme yang bisa menyewakan Timika kepada Freeport 90 tahun atau menjual beberapa pulau di Kepulauan Riau kepada kapitalis konstruksi dari Singapura. Negara merupakan kelas? Mengapa tidak bila demikian adanya. Penyelenggara negara di tingkat elit bukan hanya kelas yang kekuasaannya bisa manfaatkan (atau sejalan dengan) kelas kapitalis, tetapi juga kelas tersendiri yang kepentingannya mungkin saja berbeda dengan kelas kapitalis dan kelas pekerja. Hingga saat ini keluarga-keluarga bangsawan kerajaan-kerajaan lama di Yogyakarta, Solo, Cirebon, Makasar, Kutai, Deli, dll..) adalah pemilik-pemilik lahan luas sekaligus kapitalis.

Menurut Marx, kelas sebagai penggolongan berdasarkan kedudukan di dalam hubungan produksi di atas masihlah bersifat objektif. Artinya kedudukan sebagai pekerja tidak serta-merta menjadikan sekelompok orang menjadi sebuah kelas yang nyata. Orang-orang yang hidup di dalam kelompok tersebut juga punya sisi subjektif (perasaan, kesadaran, pandangan hidup) yang perannya penting dalam terbentuknya kelas. Oleh karena itu, Marx membedakan kelas potensial dan kelas yang nyata. Dalam Brumaire XVIII Louis Bonaparte, Marx mengulas perbedaan kelas yang nyata dan yang potensial. Dengan menggunakan contoh lapisan petani pedesaan Perancis, Marx mengurut aspek-aspek terpenting sebuah kelas yang nyata. Menurutnya kelas nyata harus punya 1) kondisi kehidupan yang menyatukan cara hidup, kepentingan, dan budaya, 2) yang menempatkan mereka dalam kedudukan berseberangan dengan kelas lain, 3) sehingga membentuk komuniti (rasa sebagai satu kelompok), ikatan nasional, dan organisasi politik yang mampu menyatakan kepentingan bersama.

Patokan kesamaan kedudukan dalam hubungan produksi (pemilik tanah-kapitalis-pekerja) hanya menjadi patokan objektif kemunculan kelas. Untuk sungguh-sungguh membentuk sebuah kelas, orang-orang yang tergolong ke dalam suatu kelas objektif haruslah menyadari kedudukannya tersebut dan menjadikan kesadaran tersebut bagian dari identitas pribadi dan kolektif dengan kepentingan yang berseberangan dengan kelas lain. Semua wartawan yang untuk membeli martabak harus bekerja kepada orang lain demi mendapat upah adalah kelas pekerja potensial. Tapi, mereka belumlah menjadi kelas selama belum menyadari kedudukan diri mereka dalam suatu kerangka hubungan produksi yang dari kesadaran ini mereka membentuk kelompok kepentingan.

Karena kedudukan dalam hubungan produksinya berbeda, maka setiap kelas punya kepentingan bersama yang berbeda pula. Bila wartawan berkepentingan untuk memperoleh upah serta tunjangan sebesar-besarnya, maka Jacob Oetomo atau Surya Paloh berkepentingan memperoleh laba sebesar-besarnya. Jelas ini berseberangan. Bila wartawan diupah tinggi, maka bagian yang dihitung sebagai laba menjadi rendah. Inilah kepentingan kelas. Bila Jacob Oetomo menginginkan laba yang setinggi-tingginya dan memecat wartawan yang berani-berani mengungkit-ungkit soal kenaikan upah, bukan karena dia sebagai pribadi memang rakus dan tak berperasaan. Tapi kepentingan kelasnya sebagai kapitalislah yang ‘mewajibkan’ dia melakukan semua cara untuk memperoleh laba setinggi mungkin. Sebagai pribadi mungkin saja Soros itu baik hati, pemurah, dan ramah. Tapi sebagai kapitalis valuta dan saham, dia harus bertindak seperti kapitalis lain yang mempertahankan kepentingan kelasnya (Mengapa? Jawabannya ada di pertemuan ke-8, 9, dan 10 ketika kita bahasa Das Kapital Jilid I. Sabar ya).

Perbedaan kepentingan antarkelas berfungsi sebagai batu api yang percikan apinya bisa membakar hutan dan mengubahnya menjadi padang rumput. Itulah saatnya revolusi. Marx pernah menyatakan dalam Manifesto Komunis bahwa sejarah manusia yang ada hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas. Benih-benih perubahan yang menggerakkan sejarah berada dalam jantung keterpilahan masyarakat ke dalam kelas-kelas.

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:45 AM
Materialisme Historis dan Ragam Produksi
Bacaan:
1. The German Ideology bagian Premises of the Materialist Conception of History dan Production and Intercourse [1845-6 MS h. 87-90]
2. Toward a Critique of Political Economy: Preface (1859, MS h. 134-7].

I
Manusia bisa saja dibedakan dari binatang lainnya karena manusia bisa main musik, ke kampus untuk kuliah, baca puisi, nonton MU lawan Juventus, menyembah Tuhan dengan khidmat, atau mendiskusikan posmo. Tapi, semua ini cuma tampilan yang bisa berdiri setelah manusia memenuhi kebutuhan dasarnya. Coba saja jangan makan tiga hari lalu nonton Liga Inggris sampai subuh. Pasti kegiatan mengasyikan itu kacau-balau. Silahkan juga coba tidak berpakaian ke kuliah tiap hari selama tiga hari. Kemungkinan besar pada hari keempat kita musti ke dokter karena masuk angin. Atau suruh Franz Magnis-Suseno mikir soal filsafat seminggu dan jangan kirimi dia sebiji nasi atau seremah roti pun selama itu. Pasti filsafatnya tidak jalan. Kenyang tidak dihasilkan dari filsafat. Dahaga tidak bisa lenyap karena sulap. Persis seperti dibilang Arthur Schopenhauer: “Primum vivere, deinde philosophari” (Hidup dulu, baru berfilsafat).

Sesakti-saktinya Dedy Cobuzer, tidak akan mampu menyulap nasi goreng sea food kegemarannya dari kekosongan. Nasi goreng tersebut bisa ada hanya melalui seperangkat kegiatan manusia yang mencurahkan tenaga kerjanya. Pertama-tama petani mengolah lahan menjadi sawah. Di sawah yang sudah diolah, bibit ditebarkan hingga akhirnya bisa tumbuh jadi padi. Semua ini bisa terjadi bukan karena sulap, tapi ada tenaga kerja yang dicurahkan ke dalam semuanya. Setelah panen (yang juga dilakukan dengan mengerahkan tenaga kerja manusia) padi digiling dengan mesin (lagi-lagi buatan manusia) hingga menjadi beras. Dari penggilingan padi di Karawang, beras itu dibawa ke pasar induk Kramat Jati dan pasar-pasar kebutuhan pokok lainnya hingga akhirnya dibeli ibunya Dedy di Alfamart (lagi-lagi harus dengan mencurahkan tenaga kerja manusia, baik sopir, kuli panggul, pelayan, dkk.). Di rumah, pembantunya dari Tegal harus mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga yang dimilikinya untuk menggorengnya hingga matang. Setelah matang, barulah Dedy bisa makan nasi goreng kesukaannya itu.

Jadi, menurut Marx (dan menurut saya beserta orang-orang yang masih berpikiran waras) manusia dibedakan dengan binatang-binatang lainnya, pertama-tama karena manusia harus menghasilkan pemenuhan kebutuhannya dengan mengubah alam sesuai keperluan. Untuk bisa memproduksi pemenuhan kebutuhan ini, manusia haruslah berkelompok. Manusia harus ‘sosial’. Manusia adalah binatang yang lemah secara individual. Manusia tidak punya sayap dan mata setajam Elang. Tidak juga mereka punya cula dan kulit tebal untuk menakut-nakuti musuh. Gigi taring manusia juga tidak bisa merobek kulit buaya atau gajah. Kukunya pasti patah untuk mencakar leher banteng. Di balik kelemahan itu, manusia punya kelebihan yang berasal dari kelainannya, yaitu ketika semakin kompleksnya organ otak dan berdirinya moyang manusia dengan dua kaki (bipedal). Paduan perkembangan syaraf dan tangan yang nganggur memungkinkan nenek moyang manusia menciptakan perkakas. Mulailah muncul manusia. Secara alamiah, manusia memang tidak bisa tinggal di Siberia atau Sahara. Tapi, dengan kemampuannya, manusia bisa hidup di mana pun setelah mengubah alam (membuat baju bulu beruang, membuat topi, dll).

Dengan kemampuannya mencurahkan tenaga dengan perencanaan matang dan bantuan perkakas, manusia mulai berlawanan dengan alam. Manusia, tidak seperti binatang lainnya, tidak pasrah terhadap lingkungannya. Kalo lingkungannya tidak menguntungkan, maka manusia mengubahnya agar menguntungkan. Karena air sungai tidak mungkin disulap untuk mengalir sendiri ke ladang-ladang, maka manusia mengubah aliran sungai, entah dengan membendung atau menggali tanah untuk salurkan air ke ladang.

Dalam istilah dialektika, manusia merupakan hasil dari pergerakan alam. Manusia adalah negasi terhadap alam. Tetapi, karena manusia berasal dari alam, maka perlawanan manusia terhadap alam tidak bisa semena-mena. Manusia tidak bisa melampaui alam. Begini contohnya: petani tradisional di negeri Skandinavia tidak pernah kepikiran untuk bertani kurma atau petani padi. Sebaliknya petani tradisional Arab tidak kepikiran untuk menjadi pemburu ikan paus atau singa laut. Sebabnya jelas. Tanah Skandinavia bukanlah habitat kurma atau padi; dan tanah Arabia bukanlah habitat ikan paus atau singa laut. Manusia mengatasi alam tapi tidak bisa melampauinya karena manusia bagian dari alam juga. Meskipun pikirannya bisa melayang jauh ke penjuru yang gaib-gaib, tapi perutnya tetap terikat pada alam.

Sebagai bagian alam, manusia juga terpengaruh oleh alam yang sudah diubahnya itu. Setiap manusia mengubah alam, manusia juga ikut berubah. Hubungan manusia dengan alam hidupnya bersifat dialektis.

II
Premis pokok materialisme historis adalah bahwa manusia itu mahluk sosial. Kegiatan manusia (bahkan manusia itu sendiri) tidak akan bisa dipahami tanpa melihatnya sebagai bagian dari kegiatan kolektif. Contohnya: ketika manusia memproduksi sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup, segala rupa yang disebut ‘kebutuhan’ dan bagaimana memenuhinya bukanlah ciptaan perorangan. Ulat sagu bukanlah makanan dalam daftar menu keluarga Jawa. Koteka juga bukan bagian dari daftar pakaian menak Sunda. Buat sebagian orang Batak atau Korea, anjing merupakan makanan lezat, tapi ia haram buat orang Anglo-Saxon Amerika. Daging babi itu makanan buat orang Papua, tapi bukan bagi orang Bugis. Kenapa bisa? Siapa yang mendefinisikan sesuatu itu makanan dan yang lainnya bukan? Siapa yang bilang bahwa sesuatu itu pakaian dan yang lainnya bukan? Jawabannya: sosial atau kolektif atau masyarakat. Kolektiflah yang mendefinisikannya.

Ketika saya lahir ke dunia ini, di sana sudah ada ibu, bapak, paman, bibi, tetangga, sepupu, dan sebagainya. Saya tidak lahir ke ruang kosong. Ada kolektif yang telah ada sebelum saya lahir. Supaya saya tumbuh dewasa dan bertingkah wajar sesuai dengan aturan kolektif, maka saya diajarkan tentang ini-itu, tentang tetek-bengek yang perlu saya ketahui untuk bisa hidup dalam kolektif tempat saya lahir.

Jadi, dalam materialismenya Marx yang penting diperhatikan bukanlah soal dari mana asal-usul pelakon di dunia nyata ini. Itulah sebabnya materialismenya Marx menolak idealisme Hegelian sekaligus materialisme kontemplatifnya Feuerbach karena kedua-dua pemikiran itu mempersoalkan sesuatu yang gaib. Yang nyata-nyata nyata adalah manusia nyata dengan segala hubungan sosial yang menjadi simpul pengikat berbagai tindakan, pemikiran, dan khayalan manusia perorangan. Intinya, material dalam konteks pemikiran Marx adalah ‘sosial’. Inilah premis pokok materialisme historis.

Manusia tinggal, hidup, dan berinteraksi dengan sesama dan alam lingkungannya melalui berbagai hubungan sosial. Ada banyak sekali bentuk-bentuk hubungan sosial yang bisa dilalui seorang manusia untuk berhubungan dengan sesama. Ada hubungan kekerabatan yang menata hubungan orang-orang berdasarkan ikatan perkawinan dan keturunan. Ada hubungan politik yang menghubungkan orang-orang berdasarkan ikatan kekuasaan. Ada hubungan birokratis yang menghubungkan orang-orang berdasarkan ikatan formal sebagai warga negara. Ada hubungan keagamaan yang menghubungan orang-orang dengan sesama dan dengan Tuhan berdasarkan gagasan Ketuhanan.

Bukti keragaman hubungan yang ada dalam kehidupan sosial bisa diamati dari diri kita sendiri. Terutama dari kedudukan dan peran sosial kita dalam masyarakat. Si Mimit menyandang kedudukan sebagai temannya Oca, mahasiswa FIKOM, anggota PM, anak dari kedua orang tuannya, keponakan dari pamannya, adik dari kakaknya, pacar dari Deni, tetangganya Ika, warga negara Indonesia, umat Kristiani dari gereja Anu, dll-dll. Dari situ silahkan saja mengira-ngira berbagai hubungan sosial yang bisa dilalui Mimit berinteraksi dengan orang lain. Tentu lebih banyak dari yang bisa saya daftarkan waktu membuat tulisan ini.

Menurut Marx, dari banyaknya bentuk hubungan sosial, ada satu bentuk hubungan sosial yang paling pokok dalam kehidupan manusia di mana pun di dunia ini. Ialah hubungan produksi dan reproduksi. Seperti sudah dibilang tadi, pertama-tama manusia harus memenuhi kebutuhan hidupnya dulu untuk bertahan hidup dan pacaran.

Hubungan produksi adalah hubungan sosial yang menata hubungan manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan lingkungannya, entah lingkungan alam maupun lingkungan buatan manusia (perkakas dkk.), dalam rangka menghasilkan pemenuhan kebutuhan hidup (Tolong jangan bayangkan ini dalam konteks perorangan, tapi dalam konteks sosial, tapi kalo belum bisa juga nggak apa-apa). Unsur pokok dalam hubungan produksi adalah pengaturan kepemilikan atas alam, perkakas, dan tenaga manusia.

Dalam sejarah manusia, paling tidak ada dua jenis pengaturan kepemilikan, yaitu kepemilikan komunal/kolektif dan kepemilikan pribadi. Dalam kepemilikan komunal, alam dan daya yang dimiliki, perkakas kerja, dan tenaga kerja manusia adalah milik bersama. Semua yang bisa dihasilkan dari kegiatan produksi menjadi milik bersama. Misalnya ada seorang laki-laki dewasa anggota suku pemburu-peramu. Tenaga kerja yang dimilikinya, misalnya dalam bentuk kemampuan berburu dengan tangkas, bukanlah miliknya sendiri sehingga ketika dengan kemampuannya itu ia memperoleh buruan yang besar, buruan itu pertama-tama menjadi milik bersama sukunya. Hasil kerjanya dibagi-bagikan kepada semua anggota suku. Penghitungan pembagiannya berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan perolehan. Bila si pemburu tangkas itu bujangan, maka bagiannya akan lebih sedikit daripada anggota suku lain yang sudah punya anak lima, meski pun sumbangan kerja si bujangan lebih banyak tercurah. Prinsipnya adalah “dari setiap orang sesuai dengan kemampuannya, dan untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhannya”.

Dalam kepemilikan pribadi semua hal yang dimiliki seseorang adalah miliknya pribadi. Segala hal yang bisa dihasilkan dari upayanya adalah miliknya pribadi. Terserah bila setelah itu ia memberikannya kepada orang lain, yang penting hasil itu adalah miliknya. Dalam masyarakat yang mengatur kepemilikan berdasarkan kepemilikan pribadi orang dilihat sebagai individu-individu, bukan sebagai bagian dari kolektif. Segala yang dimiliki dan dihasilkan individu dipandang sebagai milik individu.

III
Nah, uraian ringkas di atas akhirnya berujung pada salah satu konsep pokok pemikiran Marx, yaitu ragam produksi (mode of production). Ragam produksi bisa diartikan sebagai seperangkat cara masyarakat untuk memproduksi pemenuhan kebutuhannya. Di dalam konsep ragam produksi terkandung pengertian bahwa ragam produksi memiliki unsur-unsur. Pertama biasa disebut syarat-syarat produksi atau segala batas-batas kealaman yang memungkinkan atau tidak memungkinkan suatu masyarakat memproduksi sesuatu (contoh petani Skandinavia dan Arab tadi).

Kedua, kekuatan atau daya-daya produksi. Kekuatan produksi terdiri dari segala daya yang berasal dari alam (cahaya matahari, angin, air, tanah, tubuh dan tenaga manusia atau binatang, dkk.) dan dari segala yang diciptakan manusia (pacul, bajak, bendungan, mesin tenun, komputer, ilmu pengetahuan, dkk.).

Ketiga, hubungan produksi atau seperangkat hubungan sosial yang menghubungkan anggota masyarakat dengan syarat dan kekuatan produksi.

Ragam produksi merupakan satu kesatuan utuh yang saling paut antar berbagai unsur di atas. Bila Hegel memilah babak-babak sejarah berdasarkan perkembangan gagasan tentang pemerintahan, maka bagi Marx setiap babak sejarah manusia dan setiap masyarakat dibedakan berdasarkan ragam produksi pokok yang mendasari dan melangsungkan kehidupan sosialnya.

Secara umum, paling tidak ada empat bentuk ragam produksi pokok sepanjang sejarah manusia, yaitu primitif-komunal, perbudakan, feodal, dan kapitalis.
Inilah saja yang kita diskusikan untuk saat ini.


Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:41 AM
Dari Kritik Pemikiran ke Kritik Politik
Bacaan:
1. Toward a Critique of Hegel’s Philosphy of Right: Introduction [1843, MS, 23-39]
2. Theses on Feuerbach [MS h. 80-83]

Pertemuan minggu lalu berhenti di titik perdebatan antara Hegelian Tua dan Hegelian Muda. Perdebatan berkisar pada persoalan apa yang musti dilakukan ketika Roh mencapai Pengetahuan Absolutnya, pengetahuan yang menghantar Roh mengenali hakikatnya sebagai Yang Bebas. Di dunia material, perwujudan pencapaian ini adalah gagasan serta praktek Negara Hukum dan Protestanisme.

Hegelian Tua menekankan hanya Yang Nyata sajalah yang rasional. Sesuatu itu benar karena ia nyata. Patokan rasionalitas adalah kebertahanan di dunia nyata. Negara Hukum dan Protestanisme merupakan wujud dari Yang Rasional karena keduanya nyata saat ini dan kedudukannya lebih tinggi dari pencapaian sejarah sebelumnya. Segala bentuk praktek kehidupan nyata yang hendak mengubah atau meruntuhkan keduanya secara moral tidak baik karena menantang Kehendak Rasional yang mewujud itu. Semua harus menyesuaikan diri dengan perwujudan nyata Yang Rasional ini. Sia-sia belaka menentangnya karena Sejarah sudah menentukan pilihannya.

Hegelian Muda menekankan hanya Yang Rasional sajalah yang nyata. Mereka mengkritik kecenderungan Hegelian Tua untuk mengabaikan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Di dalam yang nyata tidak jarang didominasi penyimpangan dari patokan rasional dan keyakinan buta yang irasional. Menurut Hegelian Muda, kenyataan menunjukkan adanya ketidakberesan. Kebebasan yang mustinya berlaku dalam Negara Hukum, nyatanya tidak. Negara bersifat represif dan tindakan negara sama sekali bukan cermin kepentingan semua orang. Negara sama sekali bukanlah wujud Kebebasan. Hasilnya adalah keterasingan politik individu-individu. Orang-orang tidak merasakan kepentingannya terwakili dalam perundang-undangan, kebebasannya terkungkung oleh praktik otoriter negara yang pura-pura jadi Negara Hukum.

Bagi Hegelian Muda, tingkat ke-nyata-an suatu lembaga sosial harus diukur dengan seberapa rasionalnya ia. Untuk mencapai ke-nyata-an itu, bisa jadi perlu perombakan radikal atas lembaga-lembaga yang ada. Karena kemungkinan untuk meruntuhkan lembaga-lembaga sosial secara fisik tidak ada, maka semangat kritis diwujudkan ke dalam tindakan-tindakan kritik terhadap lembaga-lembaga yang ada sehingga rasionalitas bisa betul-betul menyatakan dirinya ke dalam sejarah. Mengikuti dialektika Hegelian, mereka memandang banhwa perubahan mencapai yang rasional tidaklah selalu lurus dan mulus-mulus saja. Penentangan atau negasi (dalam hal ini kritik terhadap pemikiran dan praktek lembaga-lembaga sosial) merupakan jalan satu-satunya demi pencapaian hakiki kebebasan. Hasilnya, Hegelian Muda menantang semua lembaga sosial yang ada saat itu.

Tetapi, karena sensor negara atas kritik-kritik terhadap pemerintah dilarang, maka sebagian besar kaum Hegelian Muda mengalihkan mulut kanon penghancurnya ke bangunan lembaga keagamaan Jerman, Kristianitas (penulis-penulis terkenalnya antara lain David Strauss, Bruno Bauer, dan Ludwig Feuerbach). Kritik terhadap Kristianiatas sebenarnya hanya merupakan jalan putar untuk menghantam konservatifnya lembaga politik.

Pemikiran Feuerbach berkebalikan dengan Hegel. Penggerak sejarah bukanlah kekuatan spiritual tetapi kondisi-kondisi material tempat manusia berinteraksi satu sama lain dari waktu ke waktu. Kondisi material inilah yang mengerangkai tindakan dan pemikiran manusia mengahadpi kehidupannya. Dalam perjuangannya menghadapi kondisi material, tidak jarang manusia mengalami kegagalan. Kegagalan iini mengantar manusia ke pelampiasan spiritual ciptaan mereka sendiri, baik secara sadar atau pun tidak. Ketika kondisi kehidupan nyata menjadi tembok penghalang mencapai tujuan, manusia menciptakan kehidupan tak-nyata. Biarlah di kehidupan nyata tak ada kebahagiaan, toh di akhirat nanti kebahagiaan menjadi milik kita.

Bagi Feuerbah, bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan Tuhan dari serpihan kehancuran dirinya sendiri yang tak mampu meraih kebahagiaan di dunia nyata. Pemikiran keagamaan hanyalah pantulan kondisi material. Penderitaan yang dialihkan ke pemikiran tentang kebahagiaan dalam agama merupakan cermin langsung penderitaan nyata yang dialami manusia.
Perlu ditegaskan bahwa kritik terhadap pemikiran keagamaan ini merupakan sekadar cara untuk mengkritik pemikiran politik. Karena saluran ke arah sana tidak dibuka sama sekali oleh pemerintah, maka kaum Hegelian Muda memasukinya lewat gorong-gorong sempit kritik pemikiran keagamaan yang masih diperbolehkan. Bila kita anggap kritik ini sebagai perumpamaan, maka jalan ceritanya menjadi sebagai berikut.

Hegelian Tua yang menjadi pendukung absolutisme Negara Prussia mendasarkan dukungannya lewat pemikiran bahwa Negara merupakan wujud sempurna Kebebasan yang menjadi tujuan akhir pencapaian Roh Dunia. Negara Prussia itu nyata. Karena itu ia rasional. Sejarah sudah memilih wujudnya untuk hidup dalam dunia. Penggugatan atasnya sangat tidak rasional, dan oleh karena itu jahat secara moral.

Bagi Hegelian Muda, rasionalitas pemikiran politik yang dilontarkan Hegelian Tua untuk menyokong keberadaan Negara Prussia merupakan ilusi semata karena dalam kenyataannya negara ini tidaklah menampilkan kebebasan sejati. Kritik atas pemikiran politik ini dianggap sebagai revolusi terpenting dalam menumbangkan kekuasaan absolut negara atas warganya. Tugas seorang filsuf adalah menjadi prajurit yang bertempur dalam perang pemikiran.

Karl Marx tergolong Hegelian Muda. Artinya, ia berdiri di sisi menentang absolutisme negara Prussia yang menghambat kebebasan manusia. Seperti Hegelian Muda lainnya, Marx mengkritik praktek-praktek pemikiran politik Prussia dan menjuluki profesor-profesornya sebagai kaum idealis yang dekaden. Idealisme Hegel dijadikan sekadar tabir yang menutupi ketidakrasionalan praktek pemerintahan. Filsafat hegel digunakan untuk mengelabui pandangan orang dari kenyataan bahwa tidak ada kebebasan di Prussia.

Perjumpaan Marx dengan karya Feuerbach ‘Theses on Hegel’s Philosophy’ (1843) hampir mengubah segalanya. Marx tidak lagi mempercayai tugas filsuf sebagai prajurit dalam perang pemikiran. Marx juga tidak memusatkan kritiknya pada negara dan pemikiran politik. Baginya, negara hanya wujud penderitaan manusia yang bertarung satu sama lain. Negara hanyalah lembaga yang dimunculkan masyarakat sakit, yaitu masyarakat yang terpilah ke dalam kepentingan-kepentingan material yang saling bertentangan. Untuk melindungi kepentingan golongan tertentu, maka negara muncul sebagai sarananya. Negara sama sekali bukan persoalan mendasar atas ketidakadilan sosial. Negara bukanlah sebab tetapi akibat dari ketidakadilan dalam masyarakat dan perdebatan dalam pemikiran seperti memukul bayang-bayang.

I
Sejarah filsafat sepertinya hanya berisi dua pemikiran saja, yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme menyatakan bahwa yang nyata-nyata ada dan penting dalam semua kegiatan mengetahui hanyalah materi; aspek objektif di luar rasio manusialah yang penting. Sebaliknya, idealisme menyatakan bahwa yang nyata-nyata ada dan penting dalam semua kegiatan mengetahui hanya rasio/Idea; aspek subjektiflah penting.
II
Materialisme Feuerbach menyatakan diri sebagai lawan dari Idealisme Hegel. Memang, Feuerbach betul-betul membalik gagasan mendasar Hegel. Bukan Idea yang menggerakkan materi (dunia), tapi materilah yang menggerakkan idea-idea.
III
Kritik Marx ditujukan pada keduanya. Dalam Theses on Feuerbach, ada dua pokok kritik Marx. Pertama, Marx mengkritik dualisme atau pemisahan antara objek dan subjek yang terkandung dalam materialisme Feuerbach maupun idealisme Hegel. Kedua, Marx mengkritik metafisika keduanya. Artinya, Marx menganggap keduanya terjebak di lumpur-lumpur ‘sekadar pemikiran’. Keduanya bergulat memperebutkan pepesan kosong. Keduanya sedang bergulat dengan bayangan.
IV
Kritik pertama dijawab Marx dengan mengajukan pemikirannya bahwa objek dan subjek tidaklah terpisah. Keduanya hanya ada sebagai satu kesatuan utuh. Tidak ada objek sempurna, tidak pula ada subjek sempurna. Yang ada totalitas.
V
Kritik kedua dijawab Marx dengan mengajukan pemikirannya bahwa yang nyata-nyata ada hanyalah manusia-manusia berdarah-berdaging yang hidup di dalam dan menghidupkan sejarah. Yang ada hanyalah manusia nyata dan hubungan-hubungan sosial di antara mereka dalam bergulat dengan kondisi kehidupannya, baik aspek material maupun aspek kesadarannya. Baik Hegel maupun Feuerbach sama-sama terjebak dalam permenungan atas Yang Gaib. Keduanya menempatkan Yang Gaib di panggung sejarah manusia dan menyingkirkan manusia-manusia nyata yang bergulat di dalamnya. Keduanya, sebagai manusia nyata, tenggelam ke dalam keterasingan dari kondisinya sebagai manusia nyata di dalam jaringan hubungan sosial.
VI
Daripada menyasar pada Yang Gaib, lebih baik menyasar yang betul-betul nyata, yaitu masyarakat tempat manusia dengan kelompok-kelompok, segala hubungan sosial dan kepentingan-kepentinganya.

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:38 AM
Kata Hegel, Sejarah itu Penyempurnaan Diri
Bacaan:
1. Economic and Philosophical Manuscripts-bagian Critique of Hegels’s Dialectic and General Philosophy [1844 MSW h. 96-111].
2. Filsafat Sejarah [Hegel/Pustaka Pelajar/2001, Bab Pendahuluan].

Keponakan saya yang masih remaja, mungkin sehabis merenungkan berita koran atau sejarah dari buku, tidak jarang bertanya pada saya, mengapa ada kejahatan, peperangan, kemiskinan, dan segala keburukan di dunia. Untuk ukuran remaja, pertanyaan seperti ini cukup subversif. Sebagai seorang beragama, jawaban yang saya berikan biasanya berkisar pada pernyataan bahwa segala di dunia adalah ciptaan Tuhan. Tuhan itu Mahabaik. Bila ada ketidakbaikan di dunia, berarti Tuhan sedang menguji orang-orang beriman atau menghukum orang-orang durjana. Di balik kejahatan, pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Tugas kita sebagai ciptaan hanyalah memetik hikmah ini. Dengan hikmah, jalan ke Kebenaran Ilahiah semakin pendek. Semakin pendek jalan ke Kebenaran Ilahi, maka tugas hakiki sebagai ciptaan, yaitu beribadah, akan semakin selaras dengan tuntunan Tuhan yang Mahabaik itu.

Dia pun tumbuh dewasa. Seiring dengan pertumbuhan fisiologi, pengenalan atas diri sendiri dan dunia sekitar semakin bertambah. Memang benar kata pepatah bahwa buku adalah jendela dunia. Lewat buku yang saya berikan, dia melihat-lihat sejarah peradaban dunia dari Mesopotamia hingga Eropa; dari Mesir Kuno ke Islam, dan seterusnya. Dari buku pula dia menemukan apa yang sudah ditemukan di masa remaja, yaitu peperangan, kemiskinan, penindasan, dan kawan-kawannya sebagai atribut yang seolah-olah sifat dunia itu sendiri. Kali ini dia tidak bertanya pada orang di sekitar. Kali ini dia mulai cari jawaban ke orang jauh. Salah satunya adalah Hegel, pemikir Jerman abad ke-19. Tetapi, karena salah satu kelemahan yang diidap adalah kemampuan berbahasa asing, maka Hegel dibaca lewat terjemahan berbahasa Inggris atau Indonesianya (kalau tidak salah, baru dua buku Hegel yang diterjemah ke dalam bahasa Indonesia) yang ada di tumpukan buku-buku saya. Tetapi bolehlah daripada mengekor pada pemahaman orang lain dalam buku-buku mereka tentang Hegel.

Jawaban Hegel atas pertanyaannya cukup sedehana. Menurut Hegel, kejahatan di dunia menunjukkan bahwa Kesadaran-Diri Roh Dunia belum mencapai tahap tertingginya. Artinya, Si Roh Dunia belum mengenal secara utuh dirinya sendiri. Selain itu, kejahatan yang tiada lain adalah peniadaan kebaikan merupakan satu jalan tempuh mencapai kesadaran diri yang hakiki. Karena hanya melalui pertentanganlah segalanya mencapai ke tahap lebih tinggi. Itulah jawabannya. Tetapi, tentu jawaban ini mengerutkan kening bagi yang belum mengenal pemikiran Hegel secara umum. Misalnya, pertanyaan bisa saja diajukan: lho, memangnya siapa sih Roh Dunia itu? Untuk apa dia mencapai tahap tertinggi kesadarannya? Memangnya Si Roh Dunia tidak utuh, mengapa? Terus, kenapa dia dihubungkan dengan sejarah dunia nyata?

Pertama-tama kita bahas metafisikanya. Metafisika Hegel menempatkan roh sebagai hakikat mendasar satu-satunya. Roh adalah substansi yang menjadi lahan tumbuhnya sesuatu selain dirinya sekaligus menjadi tujuan hakiki segala sesuatu. Mengapa bisa Hegel memilih Roh sebagai hakikat dasar segala sesuatu? Apakah dia buta bahwa lingkungan material itu nyata? Batu, pohon jambu klutuk, kucing budug, kerja kontrak, atau proletar dan rumah kontrakannya itu nyata? Ya, nyata. Semua materi itu nyata. Namun, menurut Hegel, hakikat dari kematerian materi tetap saja roh. Coba saja kalo kita potong sebuah materi terus-menerus hingga ke potongan mahakecilnya. Maka kita akan menemukan “ketiadaan materi”. Yang ada hanya konsep atau gagasan (idea) tentang materi tersebut. Hakikat roh adalah ketakterikatan (kebebasan), sedangkan materi adalah keterikatan (gaya berat). Itulah metafisika Hegel.

Sebelum melangkah jauh ke filsafat sejarahnya, perlu adanya bahasan sedikit tentang pemikiran Immanuel Kant karena filsafat umum Hegel merupakan kritik terhadap kritisismenya Kant.

Filsafat kritis Immanuel Kant berpijak pada kritiknya terhadap filsafat-filsafat rasionalistis sebelumnya (dari Descartes hingga Spinoza). Apa yang dikritiknya? Pertama, pengabaian kaum rasionalis terhadap persoalan Subjek yang sedang-mengenali. Bagi rasionalis, masalah mendasar pengenalan atau proses mengetahui hanya terletak di sisi Objek. Jadi, epistemologi mereka hanya mengangkat masalah ‘apa itu yang bisa diketahui’ dan ‘bagaimana mengetahuinya’? Mereka sama sekali tidak mempersoalkan si Subjek (rasio) yang sedang mengetahuinya. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa si Subjek tidak mengandung masalah. Oleh karena itulah Kant menjuluki filsafat rasionalistis sebelumnya sebagai filsafat dogmatis. Filsuf dogmatis percaya begitu saja pada rasio sebagai subjek yang sempurna.

Karena terpengaruh empirisme David Hume yang berpandangan kebalikan dari rasionalis, yaitu bahwa persoalannya bukan pada Objek pengenalan tetapi pada kerangka-mengetahui dari si subjek (kategori sebab-akibat, gagasan, kesan, dll), maka Kant mulai mengajukan kritik-kritik.

Di satu sisi, dengan mengakui kebenaran kritik Hume terhadap rasionalis, Kant menolak rasionalisme yang meyakini sepenuhnya pengetahuan rasio sebagai sumber pengetahuan hakiki yang menjadi dasar berpijaknya semua pengetahuan. Di sisi lain, Kant menolak skeptisme radikal Hume yang meragukan segala pengetahuan dan menetapkan bahwa tidak ada pengetahuan manusia yang pasti. Pengetahuan manusia, bagi Hume, hanya mampu mencapai taraf ‘kemungkinan’.

Dalam mengkritik Hume, Kant mengajukan gagasan bahwa rasio (Subjek) mempunyai kerangka yang tidak diperoleh dari pengalaman atau disebutnya pengetahuan a priori. Dalam proses mengetahui dunia luar (objek), rasio menggunakan kerangka ruang-waktu dan kategori-kategori dan hanya lewat kerangka inilah pengalaman bisa menjadi sumber pengetahuan bagi si subjek. Sedangkan dalam kritiknya terhadap rasionalis, Kant mengajukan gagasan bahwa rasio (subjek) hanya bisa mengenal (bagian dari) sesuatu yang menampakkan diri padanya atau disebutnya dunia fenomen. Dengan demikian, Kant menekankan bahwa objek-fenomen ini hanya ada ketika terhubung dengan subjek yang sedang mengetahui.

Selain dunia fenomena, ada dunia pada-dirinya-sendiri yang tidak bisa dikenali. Ada objek yang betul-betul objektif. Artinya, keberadaan objek tersebut tidak bergantung pada adanya subjek. Mengapa tidak bisa dikenali? Karena rasio subjek terbatasi oleh kerangka ruang-waktunya sendiri. Sedangkan kerangka (kategori) ruang-waktu hanya mengerangkai dunia yang tampil saja. Inilah kritisme Kant.
Di titik berhentinya kritisisme Kant inilah Hegel memulai filsafatnya. Mengikuti Kant, Hegel menggagas arti penting Subjek dalam proses pengenalan. Mengikuti Kant juga, Hegel mengajukan pemikiran bahwa Subjek tidak sempurna sedari awal. Tidak seperti Subjek dalam rasionalisme Descartes yang mahasempurna pada dirinya sendiri dan menjadi satu-satunya pijakan pengetahuan yang benar, Subjek dalam pemikiran Hegel selalu berubah dan sedang dalam proses penyempurnaan diri. Tetapi, berbeda dengan Kant, Hegel menyatakan bahwa das-Ding-an-sich tidak ada. Segala sesuatu bisa diketahui oleh Subjek, meski perlu proses untuk mencapainya.

Sebelum terlalu jauh terjerumus, ada baiknya diingatkan bahwa istilah Subjek dalam pemikiran Hegel bukanlah subjek perseorangan seperti saya atau orang-orang yang sedang belanja di warung tegal. Subjek ini adalah Subjek Universal yang sedang berhadapan dengan bukan-dirinya (yaitu dunia). Subjek Universal ini ada sebelum subjek-subjek perorangan manusia sendiri ada. Jadi, filsafat Hegel benar-benar abstrak. Kegiatan filsafatinya berada di luar dunia nyata, melampaui tetek-bengek hingar-bingar dunia nyata. Tapi, meski demikian, Hegel menyatakan bahwa bagaimanapun filsafat umumnya dibangun pula dengan sejarah empiris.

Subjek Univerisal dalam filsafat Hegel adalah Roh Dunia, dasar segala sesuatu yang ada di dunia.

Hegel bicara soal Roh Dunia atau Subjek Universal yang abstrak ini, lalu apa hubungannya dengan sejarah di dunia nyata? Baiklah, mari kita contohkan diri saya sebagai subjek di dunia. Saya menyadari bahwa saya berbeda dengan sekeliling karena ada yang-lain di sekeliling saya itu. Ada sesuatu yang berbeda di luar diri saya. Segala sesuatu yang bukan-saya boleh disebut objek. Rentang cakupan objek itu macam-macam. Dari tubuh dengan daging dan kulitnya hingga catatan sejarah peradaban yang saya ketahui lewat buku. Itulah dunia; sesuatu di luar diri saya. Tetapi, kesadaran diri saya tidak serta-merta ada sejak saya lahir ke dunia. Kesadaran diri muncul perlahan-lahan melalui banyak sekali tahap. Mulanya saya hanya mengenal ibu tempat menyusu. Hingga usia dua tahun, saya masih belum sadar betul bahwa saya berbeda dengan ibu. Ketika masanya tiba, saya mulai menyadari bahwa saya berbeda dari ibu. Saya pun berjumpa dengan warna, suara, bahasa, bentuk-bentuk, rasa-rasa, sifat-sifat, dan sebagainya hasil cerapan pancaindra atas dunia. Terus, saya mulai mengetahui banyak hal. Mulanya pengetahuan itu sedikit. Dengan berjalannya waktu dan bergulirnya pengalaman, pengetahuan saya tentang sesuatu (dan konsekuensinya pengetahuan saya tentang diri sendiri) bertambah. Ada banyak peristiwa yang memberi hikmah. Dengan hikmah itu saya semakin dewasa menghadapi dunia dan seterusnya... dan seterusnya hingga akhirnya saya mencapai titik tertinggi pengenalan diri yang menghantar pada bersatunya secara utuh antara pengetahuan dan praktik kehidupan saya atau dalam ajaran nabi agama saya, “bersatunya hati-pikiran-perbuatan”.

Roh Dunia pun mengalami seperti yang saya alami. Tahap awal, Roh Dunia tidak mengenali hakikat dirinya sendiri hingga akhirnya, melalui keberadaan dunia dan akhirnya keberadaan manusia, ia mengenal dan kian menyadari hakikat dirinya.

Bila Roh sebagai substansi, atau satu kesatuan utuh yang keberadaannya tidak memerlukan ‘yang lain’, lalu mengapa dia memerlukan yang-lain untuk mengenali diri? Ya itu tadi. Seperti saya yang memerlukan yang-lain untuk menyadari diri, begitu pula Roh Dunia. Keberadaannya hanya mungkin diketahui oleh dirinya bila ada yang-lain; ada sesuatu yang bukan-dirinya tempat ia bisa bercermin. Dunia adalah yang-lain itu. Jadi, Dunia adalah perwujudan dari keberadaan Roh Dunia dan gerak sejarah di dalamnya tiada lain merupakan gerak pengenalan Roh Dunia atas hakikat dirinya. Tetapi, apa yang menggerakkan atau yang menyebabkan proses pengenalan ini berlangsung? Lalu, kapankah proses ini dimulai dan diakhiri?

Sebelum menjawabnya kita perlu membahas konsep penting lain yang menjadi ciri khas filsafat Hegel, yaitu dialektika. Dalam filsafat Hegel, dialektika adalah teknik berpikir sekaligus hukum terdalam dari perkembangan. Artinya, perkembangan gagasan (idea) yang berujung pada kesadaran diri hanya mungkin terjadi bila ada dialektika. Di dalam pemikiran Hegel terkandung gagasan bahwa segala sesuatu mengandung pertentangannya. Sesuatu merupakan kesatuan dari pertentangan-pertentangan. Sebagai contoh, ‘ada’ adalah sesuatu. Satu kesatuan utuh dari ‘ada’ mengandung ‘ketiadaan’ dalam diri yang menyangkal ‘ada’. Oleh karena itu, keberadaan ‘ada’ tidak pernah tetap seperti ‘ada’nya, tetapi berkembang menjadi ada-yang-lain karena dirinya mengandung ‘ketiadaan’ yang menyangkal ‘ada’nya sehingga hakikat keberadaan adalah ‘menjadi’ atau terus-menerus sedang ‘mengada’.

Di dalam dialektika, proses perubahan dari tesis-antitesis-antitesisnya-antitesis berjalan dalam dua tahap, yaitu perubahan-perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif. Boleh kita ambil contoh telur. Telur bukan ayam, tetapi dalam hakikat telur terkandung ayam atau, katakanlah bukan-telur. Mulanya adalah telur (tesis) yang mengandung bukan-telur (antitesis) dalam dirinya. Katakanlah perbandingan antarunsurnya 9:1. Seiring waktu, unsur bukan-telur bertambah dan terus bertambah (perubahan kuantitatif). Katakanlah pada akhirnya perbandingan antarunsurnya menjadi 1:9. Tetapi, telur itu sendiri masih tetap ‘telur’ dan bukan sesuatu yang lain. Ketika pada suatu titik telur itu mencapai tahap yang unsur bukan-telurnya tertinggi, akhirnya ia menetas dan menjadi ayam (perubahan kualitatif).

Ayam merupakan sesuatu yang baru yang berbeda dari telur. Dalam pemikiran Hegel, perubahan kualitatif ini menghantar pada perubahan hakikat atau disebut loncatan dialektis. Artinya, sesuatu yang mulanya berhakikat telur menjadi berhakikat ayam. Harus ditekankan bahwa ayam tidak menghancurkan telur untuk menjadi ayam. Yang terjadi dalam dialektika adalah telur melampaui dirinya hingga mencapai kedudukan sebagai ayam; telur terangkat kedudukannya ke tahap lebih tinggi yang mungkin dicapai potensi yang terkandung di dalam dirinya. Inilah inti filsafat Hegel yang kelak melahirkan Marx dengan materialisme historisnya. Segala sesuatu sedang menjalani muhibah ke tahap yang lebih tinggi (progresif) yang sudah terkandung sebagai potensi dalam setiap sesuatu.

Menurut Hegel, hakikat Roh, berkebalikan dengan hakikat materi, adalah ketidakterikatan atau kebebasan. Sejarah dunia yang merupakan gerak pengenalan Roh Dunia atas hakikatnya adalah sejarah menuju kebebasan hakiki. Dalam kumpulan kuliahnya tentang Filsafat Sejarah, Hegel mengurai berbagai perkembangan gagasan kebebasan dan perwujudannya dalam kehidupan politik, ekonomi, dan agama masyarakat.

Ketidaktahuan Roh Dunia atas hakikatnya, yakni ketidaktahuan akan kebebasan mewujud dalam kehidupan masyarakat yang secara politik otoriter, secara ekonomi perbudakan/perhambaan dan secara keagamaan politeistik seperti yang belaku dalam masyarakat-masyarakat sebelum kapitalisme. Tetapi, ketidakbebasan ini ditentang oleh unsur dari dirinya sendiri, yaitu kebebasan. Secara bertahap, akhirnya Roh Dunia mengenali hakikatnya melalui perkembangan terus-menerus; penyangkalan terus-menerus atas kondisi ketidakbebasannya. Hingga akhirnya Roh Dunia mewujudkan hakikatnya dalam bentuk sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem keagamaan yang membebaskan manusia. Pada tahap tercapainya Idea (gagasan) kebebasan yang tiada lain adalah hakikat Roh Dunia inilah perjalanan sejarah (atau proses pengenalan diri si Roh melalui dialektika) selesai dan Roh itu berubah menjadi Roh Absolut. Pengetahuannya pun menjadi Pengetahuan Absolut. Kapankah itu?

Hegel menjawab bahwa perwujudan tertinggi atau tercapainya Kesadaran Tertinggi si Roh Dunia adalah di masanya, yaitu Eropa Barat abad ke-19. Pada masa itu, menurutnya, Kebebasan yang menjadi hakikat keberadaan Roh Dunia telah mencapai titik tertingginya, yaitu bersatunya Idea (gagasan) kebebasan dengan kenyataannya dalam kehidupan masyarakat atau ketika “Roh menyadari bahwa ia bebas, lantaran ia menginginkan Kebenaran, Keabadian yang berada di dalam dan untuk dirinya sendiri Universal”. Bentuk-bentuknya antara lain 1) filsafat pengetahuan absolut yang membebaskan filsafat dari ‘das-Ding an sich’-nya Kant, yaitu filsafat absolutnya Hegel (dan Idealis Jerman lainnya); 2) sistem politik yang mengusung kebebasan, yaitu negara hukum hasil dari Revolusi Perancis; 3) sistem ekonomi rasional dan menjalankan kebebasan, yaitu kapitalisme dan pasar bebas; 4) sistem keagamaan yang rasional dan menjunjung kebebasan individu, yaitu Protestanisme.

Bila Roh Absolut sudah mencapai tahap tertinggi pencarian ‘jati dirinya’, lalu apa yang bisa dilakukan? Semua Hegelian sepakat, yang harus dilakukan hanyalah penyempurnaan kesatuan utuh antara gagasan kebebasan dan kenyataan. Tetapi, jawaban atas pertanyaan: bagaimana menyempurnakannya? Kaum Hegelian tidak sepakat. Jawabannya ada dua, yaitu dari kalangan Hegelian Tua yang konservatif dan dari Hegelian Muda yang revolusioner. Bagi Hegelian Tua, bila Pengetahuan Absolut sudah tercapai dan perwujudannya dalam kenyataan sudah ada, yang harus dilakukan hanyalah menyesuaikan kehidupan dengan perwujudan pengetahuan absolut yang rasional ini. Bagi mereka segala yang nyata itu rasional. Derajat kerasionalan suatu lembaga sosial harus diukur dengan nyata atau tidaknya lembaga itu. Dalam pemikiran mereka, ketundukan dan penyesuaian diri dengan negara hukum Prussia dan agama Protestan (sebagai lembaga-lembaga yang nyata-nyata terwujud) merupakan jalan satu-satunya menyatukan pengetahuan dengan kenyataan secara sempurna. Dalam negara hukum, pertentangan antara kebebasan individu dan kebebasan kolektif terdamaikan.

Bagi Hegelian Muda, negara hukum Prussia dan Protestanisme bukan wujud sebenarnya dari Pengetahuan Absolut di muka bumi, atau dengan kata lain negara Prussia dan Protestanisme belumlah sempurna bila hendak menjadi wujud hakiki kebebasan. Bagi mereka yang rasional-lah yang nyata. Artinya bila suatu lembaga sosial tidak rasional atau tidak membebaskan manusia, berarti ia belum rasional. Untuk menyempurnakannya maka lembaga tersebut harus disesuaikan dengan rasionalitas yang ada; negara dan agama tersebut harus dikritik dan dirombak agar sesuai dengan yang rasional. Ketidaksesuaian negara hukum dan Protestanisme itu tampak dari masih adanya sisa-sisa monarki dan penghambatan kebebasan individu. Demokrasi yang mewujudkan kebebasan masih setengah-setengah dipraktikkan. Kebebasan individu dalam Protestanisme juga masih setengah-setengah karena terlalu berkuasanya elit gereja dan kaum teolog terhadap umat awam.

Itulah sekadar gambaran singkat gagasan Hegel yang menjadi dasar pijakan sekaligus tentangan Marx melalui materialisme historis.

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:36 AM
Yesus itu Sosialis
Ben Yosef
Bismil-Abi wal-Ibni war-Ruhul Qudus
Yesus, putra perempuan suci Maria, dilahirkan di sebuah kandang domba. Yesus tidak dilahirkan di rumah megah atau rumah bersalin mewah karena Dia memang lahir dalam keluarga miskin. Yosef, suami Maria, adalah tukang kayu. Setelah dewasa, Yesus pun menjadi seorang tukang kayu yang membuat meja atau kursi untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Karena itulah kegetiran hidup sebagai kelas pekerja dalam kemiskinan dan ketertindasan tidak dipahami Yesus secara teoritis; Dia mengalaminya sendiri sebagai pengalaman keseharian. Ingatlah ketika Dia berkata: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah aku” (Mat. 19: 21).

Perkataan ini hanya bisa terucap dari orang yang mengalami sendiri getirnya kemiskinan itu. Jangan heran bahwa Yesus pernah bersabda pada murid-muridnya bahwa lebih sulit orang kaya masuk sorga daripada seekor unta masuk lubang jarum. Apalagi orang kaya yang memperoleh kekayaannya dari praktek-praktek pemerasan; yang membayar upah rendah pada pekerja untuk memperoleh untung banyak, yang merentenkan uang pada orang yang terjerat kemiskinan dengan bunga yang tinggi; yang menipu orang lemah dan tak berdaya lalu merampas masa depannya. Sungguh, Yesus tidak akan memaafkan mereka hingga mereka menghentikan praktek penghisapan tersebut dan membagi-bagikan kekayaan yang diperoleh dengan cara itu pada orang-orang lemah. Surga bukan untuk orang rakus.

Yesus hidup di Palestina pada masa pendudukan Romawi. Di masa dewasanya, Yesus diburu prajurit penjaga Bait Allah dan tentara Romawi. Mengapa? Apakah karena dia Anak Tuhan? Bukan, bukan hanya itu. Yang terpenting adalah bahwa Dia mengkhotbahkan kesetaraan manusia di hadapan Allah; Dia mengkhotbahkan keadilan; Dia mengajarkan kesederhanaan dan kepedulian pada yang hina. Dia mendatangi perkampungan kumuh, tempat pelacuran, dan rumah orang lepra. Dia obrak-abrik para pedagang uang di pelataran Bait Allah dan menghardik mereka sebagai penyamun. Dia disalib oleh Gubernur Palestina yang bekerja sama dengan pemuka-pemuka agama, Farisi penguasa Bait Allah, dengan tuduhan sebagai pemberontak.

Ya, Dia memang memberontak. Tapi bukan hanya pada pemerintahan lalim. Dia menggugah kaum tertindas memberontak pada tatanan sosial-ekonomi yang korup dan menindas; pada tatanan sosial-ekonomi yang bertumpu pada penghisapan dan pemerasan kaum lemah. Ia juga memberontak terhadap ritual-ritual formal penuh kemunafikan; liturgi yang kosong dari kepedulian terhadap kaum lemah. Ingat ketika Yesus bersabda: “Ahli-ahli Taurat itu dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu ikutilah dan lakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi” (Matius 23: 1-7).

Yesus menentang penghisapan manusia oleh manusia. Bagi-Nya semua manusia setara di mata Allah. Tidak boleh ada yang mengambil manfaat secara keji dari orang lain karena kedudukannya. Apalagi dengan cara menindas. Semua manusia adalah saudara. Ingatlah Yesus bersabda: “Janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara” (Mat. 23: 8).

Sekarang memang tidak ada yang disebut Rabi di kalangan Kristen. Tapi bukan berarti lembaga Rabi musnah. Tidak! Di kalangan Kristen ada orang-orang yang ingin disebut pendeta, minister, reverend, pengkhotbah, dan segala tetek-bengek titel lain yang mencoba menempatkan dirinya di atas manusia lain dan mengambil manfaat dari persembahan orang-orang Kristen untuk memperkaya diri. Orang Kristen tidak hanya lupa pada sabda Yesus, tapi juga lupa pada kritik Martin Luther terhadap hirarki dalam beragama. Luther manghapuskan hirarki yang menindas bukan untuk melanggengkan sistem lama dengan nama baru!

Lupakah kita pada sabda Yesus: “Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu” Ya. Kita lupa. Ketika kita besar, yang terjadi adalah kita ingin dilayani. Naik mobil mewah, lalu dijemput dengan penuh kehormatan munafik. Memasuki gereja megah, menerima salam dan persembahan jemaat sehingga bisa ziarah ke tanah suci sesering mungkin. Para pengkhotbah menjual Getsemani, Yerusalem, Danau Galilea, dan Bethlehem melalui perusahaan tour and travelnya untuk bisa membangun rumah megahnya di kawasan elit.

Yesus benci hirarki. Ingatlah Dia bersabda: “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan” (Mat. 23: 11). Bagi Yesus, manusia itu setara. Tidak boleh ada kelas-kelas yang menempatkan manusia ke dalam lapisan-lapisan tinggi-rendah sehingga yang tinggi bisa memeras si rendahan. Sama rata sama rasa, itulah ajaran Yesus. Mengapa para pengkhotbah tidak mengkhotbahkan ayat ini? Karena mereka teruntungkan oleh keadaan yang menempatkan mereka di kedudukan lebih tinggi dari umat awam. Dari kedudukan itu mereka bisa memperoleh previlage, penghormatan, rumah dinas, dan persepuluhan!

Para penindas adalah musuh Yesus. Lupakah kita pada sabdanya: “Calakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Mat. 23: 14).

Di kalangan Kristen, para pemimpin jemaat merasa tidak menjadi sasaran sabda ini karena mereka bukan ahli Taurat, bukan Farisi! Keliru, mereka sungguh keliru. Para ahli Alkitab dan rohaniwan yang bekerja sama dengan penindas atau membiarkan penindasan terjadi, atau malah melakukan penindasan itu sendiri akan dihukum lebih berat. Farisi-farisi dalam kalangan Kristen tidak sedikit. Mereka bekerja sama dengan penguasa lalim; dengan kapitalis penindas kaum pekerja, menutup mata dan pura-pura tak tahu penggusuran tempat-tempat orang miskin mencari nafkah dengan alasan bahwa rakyat tertindas itu bukan Kristen. Sungguh picik. Persis seperti Farisi-farisi penguasa Bait Allah.

Ingatlah Yesus bersabda: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat. 23: 23).

Setiap waktu kita bayar persepuluhan, tapi yang kita bayarkan adalah dari hasil keringat-darah orang yang kita rampas haknya. Kita bayar persepuluhan buat gereja, tapi kita menindas orang lain untuk menumpuk-numpuk kekayaan kita sendiri. Kita bangga dengan bangunan gereja kita yang megah sementara itu orang-orang yang bekerja pada kita hidup sengsara tanpa tunjangan memadai sambil menyalahkan mereka sebagai orang bodoh dan malas. Toh mereka bukan Kristen. Bodoh! Kalian yang bodoh. Yesus tidak pernah bilang bahwa kita hanya harus peduli pada orang Kristen! Pesan Yesus adalah kita tidak boleh menindas pada sesama manusia; bukan urusan-Nya sesama itu Kristen atau bukan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat. 23: 25-26). Kita sering mendengar para pengkhotbah menganjurkan orang-orang kaya yang memperoleh kekayaannya dari memeras tenaga pekerja atau dari menipu kaum lemah, untuk rajin bersedekah atau memberikan persepuluhan secara rutin agar bisa masuk Sorga. Tetapi mereka tidak pernah mengkritik sistem yang membuat orang kaya itu kaya dan yang miskin itu tetap miskin, yaitu penghisapan manusia atas manusia. Persis seperti Farisi yang membersihkan pinggiran pinggan tapi membiarkan perampasan dan kerakusan tetap bercokol di bagian dalamnya.

Bila sosialisme secara longgar diartikan sebagai faham yang mengutamakan keadilan dan persamaan antarmanusia, dan bila sosialisme adalah faham yang menghendaki dihapuskannya praktek-praktek penghisapan manusia oleh manusia dan menjadikan kehidupan manusia tanpa sekat-sekat kelas antara kaum pemilik dan orang tak-berpunya maka tidak perlu ahli tafsir lulusan doktor teologi untuk sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah sosialis.

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:27 AM
Seks
I
Dari rahim seorang perempuan saya dilahirkan. Karena bukan nabi, tubuh saya diproduksi dari sperma dan ovum lewat hubungan seks. Asal-usul biologis saya dari sana. Saya tidak tahu apakah saya ini diciptakan oleh Tuhan atau tidak. Yang jelas-jelas jelas adalah bahwa lewat seksualitas saya bisa ada di dunia ini. Big Bang pertama yang memunculkan saya dari singularitas dan menjadi manusia adalah seks. Selain itu, kalau diingat-ingat, identitas sebagai manusia hanya dibatasi oleh dua peristiwa hidup: kelahiran dan kematian. Itulah batas-batas keberadaan saya sebagai tubuh. Banyak nabi dan filsuf bicara soal kematian dan kehidupan setelahnya, tapi tak pernah habis pikir mengapa seks, sebagai bagian terpenting awal ‘penciptaan’ sulit ditemukan dalam karya-karya filsuf besar. Memang Plato, dalam beberapa dialognya, terutama Symposium, pernah usil membahasnya. Schopenhauer juga pernah dalam karya besarnya Dunia sebagai Kehendak dan Bayang-bayang. Tapi dua orang itu tak ada artinya dengan ratusan tokoh besar lain yang adem-ayem saja soal seks. Apakah karena filsuf-filsuf Eropa adalah laki-laki normal? Kalau laki-laki normal memangnya kenapa? Mengapa juga kalau bicara seks harus selalu dikaitkan antara ‘perempuan dan seksualitas’? Sesuci apa sih seksualitas laki-laki sampai-sampai tabu dibicarakan? Apakah karena sejarah manusia yang pernah menempatkan (hanya) penis sebagai perwujudan dewa tertinggi? Kembali ke soal seksualitas perempuan, Apa sih bedanya ibu rumah tangga dengan pelacur? Apakah karena yang terakhir menjual ‘kekuatan produksinya’ demi uang, sedangkan yang pertama demi Tuhan dan moralitas masyarakat? Semakin lama bengong, tambah banyak tanya yang bersliweran ke sana ke mari. Datang dan pergi seperti mengejek kecerdasan akal yang diasah bertahun-tahun di sekolah. Tulisan ini sama sekali bukan traktat filsafat yang ingin membuktikan ini atau itu. Tulisan ini juga bukan risalah filsafat yang menganalisis ini atau itu. Sama sekali bukan. Tulisan ini sekadar sebentuk penuangan atas pengalaman-pengalaman saja. Bisa bernilai, bisa juga hanya sampah. Toh tak ada nilai sesuatu pada dirinya sendiri. Manusialah yang memberi makna pada sesuatu, bukan sesuatu itu sendiri.

Dibilang bagaimana pun, ditutupi serapat apapun, kenyataan tetap kenyataan: saya hanyalah anggota dari spesies mamalia bernama Homo sapiens. Seperti mamalia lainnya, saya bertubuh. Kalau boleh mengutip Merleau-Ponty, “aku adalah tubuhku”. Di tubuh ada tangan, kaki, kepala dan segala isinya yang terhormat itu, perut dan segala isinya, hidung, mata, telinga, dan akhirnya alat kelamin. Seperti mamalia lain, semua perkakas tersebut merupakan alat adaptasi. Setiap perkakas punya fungsi masing-masing. Alat kelamin, misalnya, digunakan untuk berhubungan seks; bukan untuk makan atau mendengar. Dan hubungan seks atau berinteraksinya alat kelamin tiada lain untuk reproduksi spesies; melanjutkan keberadaan spesies di dunia ini. Apanya yang berbeda dari mamalia lain? Tentu saja ukuran. Letak, kegunaan, dan berat jenis sama sekali sama. Mungkin ada yang bilang bahwa alat kelamin kita berbeda karena kita berakal budi yang dengannya kita punya kebudayaan. Alat kelamin ini dikerangkai norma dan nilai-nilai dalam ‘tindakannya’ karena menjadi bagian dari tubuh manusia yang hidup dalam masyarakat. Mungkin benar, tapi nilai itu, sekali lagi, hadir jauh setelah evolusi biologik menghasilkan alat kelamin. Seksualitas berakar dari biologi. Titik. Asal-usulnya di dunia fenomenal adalah biologi. Entah kemudian menjadi ekonomi atau politik bukan urusan alat kelamin. Yang jelas dasarnya adalah biologik. Yang menjadi persoalan kemudian adalah kerangka budaya yang ‘mengawasi’ kelamin dan gerak seksualitasnya. Setiap masyarakat di suatu jaman punya norma yang tidak sama dengan budaya masyarakat lain di lain jaman. Norma-norma yang mengatur, mengawasi, atau ‘mendisiplinkan’ kelamin sering dianggap sebagai sesuatu yang sudah dari sananya seperti itu; dianggap sebagai titipan Tuhan yang dijatuhkan dari langit untuk kesejahteraan manusia. Padahal, sekali lagi, nilai (dan berarti juga norma) terhadap sesuatu, tidak terkecuali terhadap kelamin, merupakan hasil dialog antara kehidupan nyata dengan lingkungan nyata yang dihadapi masyarakat; hasil dialektika kesadaran dan kenyataan material. Tetapi, sekali lagi, jangan dianggap dialektika ini terjadi antara semua lapisan masyarakat dengan pengalamannya. Segelintir elit masyarakat membuat norma-norma yang mereka anggap ‘menyejahterakan’ masyarakat. Dengan mulianya, elit-elit ini menciptakan dan menetapkan aturan-aturan terhadap kelamin dan gerak seksualitasnya.

Dalam kehidupan masyarakat yang terus-menerus berevolusi membuat jaring-jaring norma sampai menjadikan manusia narapidana dalam jaring yang dibuatnya sendiri, seks dibuat seolah-olah terputus dari akarnya: kelangsungan spesies. Seksualitas menjadi jahat dalam beberapa kasus. Atau ditutupi oleh ideologi tertentu, seperti cinta romantis misalnya, dalam kasus lain. Perilaku dan pelaku seks dipilah-pilah ke dalam kategori antara ‘yang benar’ dan ‘yang tidak benar’. Dulu saya pikir semua masyarakat di semua jaman sejak manusia pertama diciptakan memraktekkan perkawinan sebagai lembaga sah untuk hubungan seks. Dulu juga saya pikir bahwa praktek perkawinan semua masyarakat di dunia ini sama dengan yang dipraktekkan oleh orang di kampung saya. Ternyata tidak. Di Tiongkok, orang Han sangat tabu bicara seks. Hubungan seks mereka diatur begitu ketat. Sedangkan beberapa sukubangsa di Tiongkok selatan yang menerapkan penarikan garis keturunan dari jalur perempuan (matrilineal) sangat terbuka soal seks. Setiap gadis usia 9 tahun sudah harus diajarkan berseks oleh ibunya. Ketika ia menemukan tambatan hatinya, laki-laki tersebut tidaklah menjadi suaminya yang tinggal dalam satu tempat. Laki-laki itu hanya harus datang pada waktu tertentu untuk ‘memberikan’ benihnya. Praktek ini mungkin sekali terdengar kasar bagi kita orang Indonesia yang luhur budinya. Apalagi bila saya ceritakan praktek kawin bangsa Nanyar di suatu tempat di India yang sama sekali tidak ada ‘perkawinan’. Laki-laki tidak begitu penting karena garis keturunan ditelusuri dari jalur perempuan, maka siapa pun laki-laki yang menghamili tidaklah masalah. Yang penting adalah siapa perempuan yang melahirkannya. Alasan ‘rasional’ yang mendasari pembolehan poligami dalam beberapa masyarakat biasanya berkisar pada argumen bahwa agar si anak tidak bingung siapa bapaknya. Jelas argumen ini muncul dari masyarakat yang menganut dan memraktekkan patrilineal yang mementingkan garis keturunan dari jalur laki-laki. Jadi, sekali lagi, aturan itu bukan datang dari Tuhan yang Mahabenar, tapi dari sistem masyarakat yang berlaku. Kalau pun memang ‘Tuhan’ yang mewahyukan aturan tersebut, mungkin, seperti dalam teori agamanya Durkheim, Tuhannya tiada lain adalah masyarakat sebagai kesatuan yang dipersonifikasi dan disucikan. Sudahlah jangan pamer pengetahuan antropologimu! Aku tahu kamu pernah kuliah di jurusan itu. Aku juga tahu ada banyak masyarakat yang praktek pengaturan seksnya tidak sama dengan di kita, seperti di beberapa bagian di Tibet yang seorang perempuan harus menikahi semua saudara laki-laki suaminya dan mereka tinggal di satu rumah. Baiklah. Hal yang ingin saya sampaikan di paragraf ini adalah bahwa norma dan nilai atas kelamin dan gerak seksualitasnya tidaklah sama di semua masyarakat. Artinya norma dan nilai yang memilah antara ‘yang benar’ dan ‘yang salah’ diciptakan oleh masyarakat. Dan dalam masyarakat tersebut sekelompok elit yang nganggurlah yang menciptakan norma-norma tersebut. Seperti yang sedang terjadi di Indonesia, segelintir elit masyarakat merumuskan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Dan jelas mereka bukan budha tanpa kepentingan atau Tuhan Mahabenar yang polos.

II
Minggu kemarin kita bicara soal Schopenhauer dan teori kehendaknya. Dunia Noumenal yang merupakan hakikat terdalam semua keberadaan merupakan dunia tunggal tanpa identitas yang bergerak tanpa rencana. Hanya perwujudannya di dunia fenomenal saja gerakannya bisa disadari. Schopenhauer menawarkan teori aspek ganda yang menerangkan bahwa pada dasarnya dunia ini adalah satu adanya. Pembedaan antara dunia noumenal dan dunia fenomenal hanya dalam kesadaran manusia saja. Aduuuh, inikan teori metafisika paling tua dalam sejarah manusia. Jelaskan dong dengan contoh yang gampang. Jangan bikin aku muak dengan filsafat! Oke...oke, baiklah akan saya coba. Kita tahu listrik. Sebagai energi pada dirinya sendiri listrik adalah satu. Ia adalah energi. Titik. Listrik tidak bertujuan sama sekali. Ia merupakan energi buta yang bergerak membabi-buta tanpa tujuan. Tetapi dalam dunia sains dan teknik elektronik, listrik mewujud dalam rupa cahaya lampu, suara radio, dering hp, gerak robot, atau gambar video. Perwujudan-perwujudan listrik di ‘dunia fenomenal’ tersebut beragam dan seperti punya tujuan-tujuan logik tertentu. Tapi, dalam dirinya sendiri, listrik tetaplah energi besar yang buta dan tak-terpilah. Ialah kenyataan dasar dari segala ‘cahaya, suara, deringan, gerak, atau gambar’ di dunia fenomenal. Pernahkah kita mengetahui listrik itu seperti apa? Tidak. Kita hanya bisa mengetahuinya dalam bentuk perwujudannya. Begitu pula kehendak sebagai hakikat terdalam realitas. Kita hanya bisa mengetaui kehendak dalam bentuk perwujudannya. Entah dalam rupa tumbuhan, binatang, atau manusia. Bagaimana, masih pusing? Biarkan saja karena filsafat bukan untuk menganalisis secara ketat preposisi-preposisi filosofis. Tugas utama filsafat adalah membantu kita untuk melihat dunia nyata sehari-hari yang pada dasarnya njlimet ini dengan lebih sederhana dan memahaminya untuk kepentingan keberadaan kita sebagai eksistensi di dunia supaya hidup lebih hidup.

Secara iseng menghubungkan teori kehendak Schopenhauer dengan gerak seks di dunia fenomenal ini sepertinya menarik juga. Alat kelamin tiada lain satu perwujudan energi kehendak. Begitu pula dengan gerak seksualitasnya. Seperti alat elektronik di atas, perwujudan ini hanya sarana bagi kehendak untuk mewujudkan dirinya dan mengekalkan dirinya sendiri. Tidak ada tujuan rasional apapun yang melandasi mengapa suatu masyarakat menganut praktek seksual seperti ini atau itu. Benarkah dengan adanya undang-undang anti pornoaksi dan pornografi kehidupan masyarakat kita lebih baik? Benarkah ada kaitan langsung antara seks dengan moralitas? Benarkah bila anak-anak kita dilindungi dari tontonan berbau seksual akan menjadi orang baik yang tidak korupsi, tidak mengeksploitasi kaum lemah, dan memperlakukan perempuan dengan lebih baik? Benarkah ‘kebejatan moral’ yang katanya indikator utamanya adalah seks berkaitan langsung dengan budi luhur masyarakat? Benarkah ada yang namanya ‘seks yang benar’ dan ‘seks yang salah’ sebagai kenyataan? Bukankah semuanya itu hanya gagasan? Atau ‘kenyataan’ sendiri hanyalah jejaring gagasan yang memerangkap manusia di dalam ciptaannya sendiri seperti yang diyakini kaum pascastruktural? Dalam filsafat Budha, dan juga Schopenhauer, kenyataan di dunia fenomenal hanyalah maya atau gagasan. Seperti kita bicarakan minggu kemarin, dengan mengikuti Kant, Schopenhauer meyakini bahwa sesuatu-pada-dirinya-sendiri (das Ding an sich) adalah ‘sesuatu’ yang tidak bisa kita ketahui, meski kita bisa mengenalnya. Yang hanya bisa kita ketahui sebagai manusia yang menjadi bagian dari dunia fenomenal yang berkerangka ruang-waktu, adalah ‘bayang-bayang’ atau gagasan-gagasan tentang sesuatu tersebut. Karena keterbatasan kita yang terperangkap dalam jaring ruang-waktu, hanya gagasan tentang sesuatu yang menampakkan pada diri kita sajalah yang potensial kita ketahui. Kumpulan gagasan-gagasan yang diperoleh dari pengalaman dirangkai sedemikian rupa sehingga dalam kesadaran kita mewujud ‘sesuatu’. Kita meninggali dunia yang kita buat sendiri. Itulah tema besar dalam buku Schopenhauer Dunia sebagai Kehendak dan Gagasan (The World as Will and Ideas). Pada hakekatnya seks sebagai das Ding an sich tidaklah jahat atau sakral. Kitalah yang melekatkan atribut-atribut tersebut pada seks. Semuanya hanya ‘cahaya-cahaya’ beraneka ragam yang merupakan perwujudan dari energi yang sama: kehendak metafisik. Yang kita ketahui tentang seks pun bersifat sebagian dan terputus-putus. Yang jelas-jelas jelas dalam kerangka teori kehendak adalah bahwa seks dengan segala atributnya merupakan bagian dari dunia fenomenal. Sebagai bagian dari dunia fenomenal, seks tiada lain adalah perwujudan dari sang kehendak. Dalam filsafat kehendak, alat kelamin tidak begitu beda dengan otak atau perut. Keberadaan dan ‘fungsinya’ dalam kehidupan ini adalah untuk melayani sang kehendak mempertahankan keberadaannya.

Dari tadi kamu banyak ngulang-ngulang pernyataan. Membosankan. Ya, memang membosankan. Apakah aku harus minta maaf atas kekurangan yang sulit kuhindari ini? Untuk sekali ini beri saya maaf itu. Tapi tidakkah sekalipun coba renungkan sejenak betapa dunia tempat kita tinggal adalah dunia yang selalu mengulang penyataan-pernyataannya. Coba bacalah sejarah. Pengulangan merupakan bahasa resmi yang digunakan dunia ini untuk menulis kisahnya yang oleh banyak filsuf dianggap rasional dan menuju ke kemajuan. Apa bedanya penyerbuan Amerika ke Irak dan Afganistan dengan serangan Ogodei atau Timur Lenk atas Transaxonia? Apa bedanya perburuan budak-budak dari Afrika dengan penjualan TKW? Bedanya cuma satu: kita punya gagasan dan nama baru atas semua itu. Dunia ini adalah perulangan yang abadi, kata Nietzsche. Kekekalan tidak ada di luar dunia ini. Dunia inilah kekekalan itu sendiri. Semuanya berulang secara abadi. Dalam kenyataan seperti ini masihkah kita membanggakan keberadaan diri kita di atas yang lain? Apa yang bisa dibanggakan sebutir debu dalam maraton besar semesta tanpa arah ini? Tiba-tiba temanku yang skeptik itu teriak sekeras-kerasnya. Tidak! Jangan percaya teori kepasrahan ini! Aku sudah paham arah teori kehendak Schopenhauer. Dia ingin kita yang tertindas menyerah! Dan menganggap segala upaya perlawanan terhadap penindas sebagai sesuatu yang sia-sia belaka. Paling tidak kita adalah debu yang berkesadaran dan dengan bantuannya kita bisa menjadi debu yang nyeleneh! Sudah cukup! Mengapa kita ribut ke tema ini, bukankah tema perulangan abadi adalah tema untuk dua minggu ke dapan?! Sudahlah sekarang kita sedang bicara soal seks. Titik.

III
Dalam dunia kita seks juga diekonomikan. Seks merupakan sarana pertukaran. Ketika kepemilikan seks bersifat kolektif, pertukaran terjadi secara kolektif. Klan A menyediakan perempuan untuk klan B, klan B menyediakan perempuan untuk klan C, dan klan C menyediakan perempuan untuk klan A. Keluarga-keluarga mempertukarkan kelamin anggota mudanya dengan seperangkat alat kerja, hewan ternak, atau barang berharga lainnya dan menyebutnya mas kawin atau harga-kawin. Dalam perkawinan politik, kepala keluarga penguasa akan mengawinkan anaknya dengan anak dari keluarga penguasa atau keluarga yang mendukung kekuasaannya. Ini tidak terjadi di suatu masa saja. Coba perhatikan perkawinan-perkawinan kalangan elit. Siapa kawin dengan siapa, keluarga mana berbesan dengan keluarga mana tidak terjadi secara kebetulan. Semuanya merupakan sebentuk pertukaran. Hanya saja yang dipertukarkan adalah anak. Dalam dunia feodal, kepemilikan pribadi sudah ada tetapi masih barada di tangan segelintir elit masyarakat. Dalam masyarakat ini seks menjadi milik penguasa feodal. Gundik dan harem merupakan lambangnya. Dalam dunia kapitalis, ketika kepemilikan pribadi muncul sebagai lembaga terpenting yang memungkinkan akumulasi kapital, alat kelamin menjadi sarana produksi milik pribadi. Pelacuran dan hidung belang merupakan lambangnya.

Dari ‘hukum alam’ seperti gravitasi hingga tatanan masyarakat kita anggap sebagai kosmos atau keteraturan. Padahal semuanya berisi pertarungan-tanpa-akhir dari kehendak-kehendak partikular yang ada banyak itu. Kemudahan manusia sebagai spesies meneruskan kehidupannya haruslah dibayar dengan penderitaan tak terbatas demi pelangsungan hidup masing-masing manusia. Masing-masing menjadi mangsa dan pemangsa yang tujuannya adalah penerusan hidup tiap mahluk itu sendiri. Di situ ada kehendak untuk hidup yang sebenarnya adalah manifestasi kehendak buta yang hanya menghendaki pengekalan berkehendak. Pelacur menjajakan seks untuk bertahan hidup dan melanjutkan penderitaan yang dipikul sejak lahir. Hidung belang melacur dan mereguk sekejap kepuasan untuk kecewa dan terus-menerus menginginkan kepuasan. Di atas ada pertanyaan: Apa sih bedanya seks ibu rumah tangga dengan seksualitas pelacur? Apakah karena yang terakhir menjual ‘kekuatan produksinya’ demi uang, sedangkan yang pertama demi Tuhan dan moralitas masyarakat? Ya, itulah bedanya. Dalam rantai kepuasan-kekecewaaan yang tak berujung-pangkal dari manifestasi kehendak, keduanya tidak berbeda sama sekali; keduanya hanya perwujudan kehendak. Keduanya merupakan setitik debu dalam rantai tak-terputus gerak kehendak. Tapi dalam dunia fenomenal keduanya berbeda bergantung gagasan yang manusia ciptakan untuk keduanya. Norma dan nilai yang dilekatkan pada sesuatu adalah penyembunyi motif sebenarnya. Kehendak yang meringkuk di dasar segala tindakan dibungkus dengan banyak dekorasi. Rasiolah yang bertugas membungkus motif-motif sebenarnya dengan pernyataan-pernyataan yang lebih ‘bisa diterima’ masyarakat. Aku mengenakan pakaian ini karena jenis pakaian seperti ini memang ajaran Tuhan. Aku menikahinya karena aku mencintainya. Aku melanjutkan pendidikan ke universitas supaya bisa meningkatkan ilmu dan pengetahuanku. Aku menikahinya karena dia orangnya baik hati, bijaksana, cantik, dan pintar.
Dalam dunia fenomenal, kehendak mewujud dalam berbagai bentuk kehidupan yang punya banyak dimensi. Keberadaan segala sesuatu sekadar alat reproduksi kehendak. Seperti halnya listrik yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, perwujudan kehendak semakin diperhalus, diperhalus, dan diperhalus oleh berbagai lembaga, gagasan, norma, dan nilai-nilai yang menyelimutinya. Bila kita kuak selimutnya, maka terbukalah tabir segala sesuatu (termasuk diri kita sendiri): perwujudan kehendak.

Malam tambah larut. Di langit kelam bertaburlah bintang-bintang. Di hadapan saya berbarislah kata-kata Schopenahauer:

“Manusia seringkali menyembunyikan motif-motif dari kelakuannya di depan semua orang, bahkan kadang-kadang menyembunyikannya dari kesadaran dia sendiri, misalnya dalam kasus di mana seseorang malu untuk mengakui motif sebenarnya yang mendorong dia melakukan tindakan ini atau itu”

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:21 AM
Asal-usul Penderitaan
I
Minggu-minggu lalu kita belajar beberapa ajaran filsafat yang sifatnya personal dan eksistensial karena berkaitan dengan persoalan-persoalan hidup keseharian yang dialami individu. Minggu ini kita akan coba memasuki satu bidang filsafat paling purba dalam rekaman sejarah filsafat, yaitu metafisika. Metafisika atau upaya pencarian dasar-dasar realitas yang tampak secara rasional ini dikenal dan digeluti oleh semua peradaban besar. Penting atau tidaknya bidang filsafat ini bergantung pada kita sendiri. Kitalah yang memberi nilai pada segala sesuatu; seperti Adam yang dianugrahi kemampuan memberi nama oleh Tuhan.

Sejak kecil saya diajarkan bahwa pendidikan itu penting, karena tanpanya kita akan menjadi korban kebodohan dan pendapat-pendapat yang salah. Lewat pendidikan, saya akan bisa mengambil keputusan bijaksana dan mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Rasio harus diasah untuk menjadi panduan untuk menilai dan bertindak. Ribuan sekolah didirikan untuk meningkatkan kepandaian orang. Ratusan olimpiade sains diselenggarakan untuk mewadahi siswa-siswa pandai yang bertanding tuk meraih prestasi. Jutaan rupiah diberikan kepada siswa-siswa berprestasi ini. Nilai ijazah yang tinggi sebagai lambang dari kepandaian merupakan salah satu syarat bila ingin bekerja di perusahaan bonafid. Kita hidup di dunia yang begitu menghargai rasio. Kisah sukses teknologi dan ilmu pengetahuan adalah kisah sukses rasio dan rasionalitas. Di jantung semua itu, bila kita tidak ingin disamakan dengan binatang, maka kita harus menggunakan rasio kita melebihi perasaan. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang dianugrahi akal. Akal menjadi pemandu utama kehidupan untuk meraih predikat ‘khalifah di muka bumi’.

Saya juga diajarkan oleh orang-orang bertaqwa bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya karena semuanya dirancang oleh Yang Maha Bijaksana. Bila saya tidak menemukan hikmah dari suatu kengerian yang terjadi di sekitar hidup saya saat ini, pasti itu karena jiwa saya belum bijaksana. Sebab, bagaimana pun, semua yang Tuhan ciptakan pasti baik dan selalu mempunyai ‘kabar baik’. Bila ada yang ‘tidak beres’ di dunia ini, maka itu bukan berarti Tuhan salah, tetapi sayalah yang belum mampu menilai secara bijaksana. Saya selalu diingatkan oleh teman saya yang religius bahwa kita hanyalah mahluk lemah yang tidak mungkin melampaui kebijaksanaan-Nya. Dunia adalah tempat terbaik yang mungkin ada. Karena kebodohan saya yang alang-kepalang; yang belum mampu mengambil hikmah, seringkali godaan setan mewujud dalam rupa ‘pikiran yang melayang ke berbagai kisah miris yang dialami manusia dan kehidupan pada umumnya’. Saya tidak habis pikir mengapa mahluk rasional ciptaan Tuhan Yang Mahabijaksana inilah yang justru bisa bertindak irasional dalam segala kekejamannya. Rangkaian kisah kekejaman dan penderitaan dari sejak adanya rekaman arkeologik tentang senjata ribuan tahun lalu hingga hari kemarin dengan perang, pemerkosaan, penindasan, pembantaian etnik, dan penghancuran-penghancuran sebagai lambang-lambangnya, terjadi justru karena manusia adalah mahluk rasional. Saya yang bodoh ini sama sekali tidak habis pikir bahwa Jerman yang dikenal mempunyai tradisi rasional yang ketat mempunyai lembaran pembantaian jutaan manusia dalam sejarahnya. Manusia pula yang menjalankan perbudakan dan eksploitasi atas manusia-manusia lemah yang terpaksa dibayar murah karena butuh sekadar untuk hidup dan melanjutkan keturunan. Dengan upah tak seberapa, gerombolan orang miskin mengantri di gerbang pabrik-pabrik menjual tenaganya. Dan ketika tubuhnya tidak lagi menghasilkan tenaga yang produktif, maka mereka pun dibuang layaknya plastik kresek yang tak terpakai lagi. Manusia pula yang begitu teganya bilang bahwa buruh itu wajar saja diupah rendah karena mereka tidak berpendidikan. Sudah untung mereka dapat pekerjaan di jaman sulit ini, katanya. Riba mungkin hanya dipraktekkan di dunia manusia. Begitu juga perbudakan (di Arab Saudi kontemporer judulnya menjadi ‘kisah sedih TKW’). Lalu, sebenarnya mahluk macam apa manusia itu? Tuhan apa pula yang menciptakan manusia yang konon adalah bayangan-Nya dan dunia tempat manusia hidup yang, menurut saya yang bodoh ini, begitu kejam? Benarkah dunia ini diciptakan Tuhan Yang Mahabijaksana? Benarkah dunia adalah tempat terbaik yang mungkin ada?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mau tidak mau membawa kita pada penggalian ke jantung realitas: Apa sebenarnya yang menjadi dasar segalanya? Apa yang menjadi inti terdalam dari realitas? Bila dasar realitas itu sesuatu yang baik, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Para filsuf, nabi, budha, atau avatar agung dari banyak peradaban besar menyediakan banyak sekali jawaban, meski jarang yang berbentuk resep-resep siap pakai. Tetapi, tidak semua jawaban bernada positif. Ada yang berpendapat bahwa dasar segala sesuatu bukanlah Tuhan Yang Mahabijaksana atau Rasio Semesta. Realitas tidak digerakkan oleh sesuatu yang rasional. Lahir dan hidup di jaman yang mengagungkan rasio dan rasionalitas membuat saya agak heran bahwa ada segelintir orang Eropa yang pernah menawarkan teori metafisika anti-rasio. Orang itu bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filsuf Jerman yang tidak terkenal di Indonesia dan fans berat Immanuel Kant (1724-1804). Berangkat dari kenyataan bahwa banyak sekali penderitaan di dunia ini, baik yang dialami individu-individu maupun yang menimpa manusia sebagai spesies, Schopenhauer sampai pada kesimpulan bahwa kisah dunia yang selama ini disandarkan pada Tuhan atau Rasio Bertujuan (seperti teori Rohnya Hegel) ternyata didalangi oleh kekuatan irasional dan tanpa tujuan pula, yaitu Kehendak-Irasional. Jantung realitas yang di situ kehidupan berserta persoalannya memperoleh suplai keberwujudannya dari ‘Sang Kehendak’ yang tak diketahui. Yang jelas Kehendak merupakan dunia noumenal yang melampaui ruang-waktu. Karena di luar kerangka ruang dan waktu, Kehendak itu tidak mungkin diketahui oleh manusia yang terperangkap dalam ruang-waktu. Selain itu, Kehendak itu sendiri bukanlah suatu pribadi layaknya Tuhan dalam agama-agama Semitik. Karena bila Kehendak itu dianggap sebagai pribadi, maka kita mengasumsikan ia terbatas oleh ruang-waktu, karena prasayarat ‘kepribadian’ adalah melekatnya dimensi ruang dan waktu sebagai pembatas identitas yang membedakannya dengan identitas lain. Karena bukan sesuatu yang berada dalam ruang-waktu, Sang Kehendak bukanlah sebab segala sesuatu karena yang mewaktu tidak mungkin disebabkan oleh yang tak mewaktu. Kehendak pun tidak mempunyai tujuan pada dirinya sendiri selain pengekalan kehendak itu sendiri. Kalau bukan Sebab Dasar, lalu apa? Ya, apa ya? Susah juga menjelaskannya. Tapi Pak Arthur bilang bahwa segala sesuatu adalah perwujudan Sang Kehendak. Pada dasarnya dunia fenomenal atau dunia yang di situ ruang-waktu menjadi kerangka pengenalan dan dunia noumenal yang tak diketahui itu merupakan satu kesatuan. Keduanya hanya berbeda dalam kedudukannya di dalam kemampuan manusia menangkapnya. Pada hakekatnya keduanya merupakan satu kesatuan tunggal. Dalam metafisika, teori tentang ini disebut dengan teori aspek ganda.

Schopenhauer sependapat dengan Immanuel Kant bahwa jangkauan pengetahuan kita hanya sampai pada sesuatu yang tampak ke hadapan kita saja (dunia fenomena). Sedangkan realitas pada dirinya sendiri (das Ding an sich) tetap menjadi sesuatu yang tak dikenal. Apa yang secara langsung kita ketahui bukanlah ‘sesuatu’ itu sendiri, tetapi (hanya) gagasan mengenai ‘sesuatu’ tersebut; bukan pohon tetapi gagasan kita tentang pohon, bukan matahari tapi gagasan tentang sang surya. Semuanya itu memang ada sebagai yang hadir menampakkan diri pada kita; mereka hadir sebagai gagasan. Dipikir-pikir memang seperti suatu hil yang mustahal kalau saya sebagai manusia biasa bisa mengetahui sesuatu dari segala sisinya dalam waktu bersamaan. Yang bisa saya tahu cuma bagian dari sesuatu yang menampakkan diri pada saya. Keutuhan sesuatu hanya ada dalam bayangan saya saja. Bagi Schopenhauer, dunia yang kita lihat dan alami atau dunia fenomenal, adalah ‘dunia sebagai gagasan’ (atau sering pula sebagai disebut dengan ‘dunia sebagai bayang-bayang’). Bayang-bayang dari apa? Bersebrangan dengan Kant yang membiarkan das Ding an sich sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri tidak diketahui, maka Schopenhauer berkesimpulan bahwa dunia penampakan (fenomenal) digerakkan, dipengaruhi, dikendalikan, dan diarahkan oleh ‘keinginan-keinginan’. Dunia fenomenal adalah bayangan dari Kehendak. Jadi, hakikat dunia atau dasar segala sesuatu bukanlah sesuatu yang rasional yang mempunyai ‘program’ tertentu (rasio, logos, Idea, Roh Absolut, atau Subjek transendental), melainkan sesuatu yang bersifat tidak rasional. Dan sesuatu di dunia fenomenal yang seolah-olah tampak terprogram (takdir, perjalanan Roh Semesta), hanyalah akal-akalannya akal manusia saja yang risih dengan dunia yang tak bertujuan. Sungguh aneh. Benar-benar aneh. Schopenhauer adalah anak kandung Pencerahan Eropa. Pencerahan berarti kepercayaan pada rasio. Mungkin benar yang dibilang Nietzsche bahwa peradaban Eropa yang menumpukan dirinya pada rasio akhirnya akan digerogoti sendiri dari dalam: Eropa sedang membunuh tuhan-tuhan mereka sendiri, dan Schopenhauer hanya permulaan. Di saat semua filsuf percaya bahwa Rasionalitas merupakan dasar segala sesuatu, dia malah ‘menemukan’ bahwa Irasionalitaslah yang sebenarnya mendasari segala sesuatu. Dalam beberapa aspek teman saya yang posmo berhutang pada gerogotan Schopenhauer.

Persetan dengan semua teori metafisika! Apa ngaruhnya buatku kalo dasar realitas itu rasio atau Kehendak? Toh hidupku begini-begini saja! Tiba-tiba temanku yang skeptik itu berseru dengan nada A mayor. Tenang, tenang sebentar. Kita cuma belajar. Nggak ada salahnya ikuti dulu cerita tentang kehendak ini. Lagi pula kita tidak sedang belajar filsafat analisis yang hanya mempersoalkan konsep dan teori. Kita belajar realitas. Itu sebenarnya tugas filsafat: memperjelas pemahaman kita tentang segala sesuatu.

Schopenhauer menyarankan, coba perhatikan kehidupan kita sehari-hari. Coba selidiki diri sendiri dan sekitaran. Perjalanan hidup tiada lain adalah rangkaian tak putus-putus dari siklus ‘keingingan-meraihnya-kecewa-senang-lalu ingin lagi’. Semua kehendak berawal dari kebutuhan atau kekurangan akan sesuatu. Kepuasan akan mengakhirinya; tetapi setelah setiap keinginan terpuaskan akan ada keinginan-keinginan lain yang minta terpuaskan. Semua kepuasan bersifat sementara saja. Setiap keinginan yang terpuaskan akan digantikan oleh keinginan lain. Kehendak tidak akan pernah puas. Jadi, menurut Schopenhauer, selama kesadaran kita dipenuhi Kehendak; selama kita mengikuti dorongan keinginan dengan harapan dan kekecewaan yang mengikutinya; selama kita menjadi subjek kehendak, maka tidak akan ada kebahagiaan. Kebahagiaan tidak lain adalah istirahat yang cukup dari desakan keinginan-keinginan. Mencapai keinginan atau menghindari bahaya tidak berbeda sama sekali. Keduanya merupakan sebentuk keresahan kehendak yang ingin mewujudkan dirinya.

Kenikmatan, atau dalam istilah Schopenhauer adalah kepuasan yang dirasakan saat keinginan terpenuhi, tiada lain adalah kesenangan-negatif. Artinya kenikmatan itu tiada lain dan tiada bukan adalah istirahatnya kesengsaraan. Kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan, tidaklah ada pada dirinya sendiri sebagai substansi. Ia hanyalah cerminan dari tidak hadirnya kesengsaraan. Sebentar, sebentar. Lalu apa yang membuat kita, manusia, masuk ke dalam putaran roda keinginan itu? Kata Schopenhauer ialah hidup kita sendiri. Hiduplah yang membuat kita senantiasa ingin terus-menerus. Inti kehidupan yang membuat keinginan selalu berubah-ubah adalah Kehendak. Hidup tiada lain adalah perwujudan kehendak-untuk-hidup. Ternyata keberadaan saya di dunia atau asal-usul ontologik saya tidaklah seperti anggapan Heidegger yang berhenti pada ‘ujug-ujug’. Bukan pula kewujudan ini diciptakan oleh Tuhan yang Mahabijaksana. Kewujudan saya dengan segala keinginannya ternyata hanyalah secuil bagian dari perwujudan Kehendak Irasional.

II
Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita menyatakan bahwa ini penting atau itu penting dan selebihnya tidak penting atau kurang penting. Seolah-olah segala sesuatu yang kita beri nilai itu memang bernilai pada dirinya sendiri. Dan kepercayaan pada substansi nilai-nilai yang melekat pada semua yang berhubungan dengan kita tersebut membawa kita pada banyak kekecewaan. Kekecewaan ini bukan pula bagian dari hakikat sesuatu itu, tetapi hasil dari gerak tak bertujuan dari Kehendak yang selalu berubah. Kehendak yang mewujud dalam kesadaran kitalah yang ‘kecewa’. Seperti kita yang sama sekali tidak sadar bahwa bumi itu bergerak, begitu pula pula sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa Kehendak-lah yang menggerakkan segala sesuatu. Kita, tepatnya rasio kita, menggambarkan seolah-olah sejarah semesta dan sejarah manusia merupakan gerak yang berpola dan mempunyai tujuan. Gagasan ini berpuncak pada filsafat Hegel yang mempercayai bahwa gerak sejarah tiada lain adalah gerak Roh Absolut yang mewujudkan diri. Roh Rasional ini bertujuan mencapai kesadaran dirinya dengan mengembangkan keterbukaan rasio. Emansipasi pendidikan, agama individual (protestanisme), ekonomi rasional (kapitalisme), dan politik demokratik, merupakan perwujudan kesadaran Roh Absolut yang mencapai ‘pencerahannya’. Sejarah pasti adalah sejarah rasional seperti diktum Hegel bahwa “Segala yang real adalah rasional; dan segala yang rasional adalah real”.

Pantas saja Schopenhauer yang dikenal sombong itu begitu membenci Hegel. Keduanya sampai pada penemuan yang berseberangan. Tapi, karena manusia lebih suka ‘mendengar’ bahwa sejarah kita atau hidup kita mempunyai tujuan, dan tujuan itu mencapai sesuatu yang lebih baik, maka kuliah Schopenhauer yang waktunya disamakan dengan jam kuliah Hegel, sama sekali sepi pengunjung.

Schopenhauer benar-benar tidak mengajarkan determinisme. Kehendak buta yang menggerakkan segala yang ada itu tidaklah punya tujuan apapun selain mewujudkan dirinya sendiri. Perwujudan Kehendak yang paling sengsara adalah kita, manusia. Mengapa? Karena kitalah satu-satunya yang punya kesadaran. Kitalah yang punya potensi untuk menyadari bahwa segala sesuatu itu berasal dari kehendak belaka. Pengalaman penderitaan kita tidak hanya dirasakan, tapi juga bisa dipikirkan. Tetapi, menurut Schopenhauer yang jelas-jelas mengikuti jejak Sang Budha, perwujudan yang paling bisa bahagia adalah kita juga dengan syarat bahwa kesadaran kita mampu memahami kenyataan dasar dan menghindari sebisa mungkin desakan-desakan Sang Kehendak.

III
Sekarang ini, mau tidak mau kita lahir dan hidup dalam masyarakat tempat sistem kapitalisme merupakan satu-satunya tatanan yang ‘rasional dan benar’. Segala yang dilakukannya (harus) tampak rasional. Bukankah meraih laba dan mengumpulkannya untuk memperluas kapital yang bisa digunakan untuk meraih laba kembali merupakan sesuatu yang tidak hanya wajar tapi juga ‘rasional’? Bukankah upah buruh dibiarkan tetap lebih rendah dari penghargaan kita pada peningkatan mesin itu tindakan ‘rasional’ untuk meningkatkan laba? Bukankah undang-undang perburuhan yang menyuburkan sistem kerja kontrak dan membatasi buruh untuk memperoleh tunjangan-tunjangan dan menghindari beberapa jenis pajak itu rasional untuk meningkatkan keuntungan perusahaan? Bukankah mempekerjakan perempuan yang dalam undang-undang selalu dipandang sebagai ‘single’ sehingga tidak perlu mendapat tunjangan dan akhirnya mengurangi biaya produksi merupakan pilihan rasional? Cukup. Cukup sudah! Kalau kita jejerkan berbagai pertanyaan dalam otakmu yang sok marxis itu, mungkin diskusi ini tidak akan pernah selesai! Ya, ya baiklah aku berhenti bertanya. Tapi tolong bicarakan juga ini.

Perwujudan Kehendak-buta dalam ‘sejarah’ manusia yang paling jelas adalah sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini sepertinya mengendalikan segala seluk beluk kehidupan kita. Bahkan dalam lembaga yang menghubungkan individu dengan ‘Tuhan’nya sekali pun. Norma yang hampir universal yang dibawa oleh perwujudan ini erat berkaitan dengan ‘kehendak untuk akumulasi kapital’, perluasan kuasa ekonomi (dan politik), dan eksploitasi atau penaklukan alam serta manusia. Mengejar laba sebesar-besarnya dan perluasan terus-menerul kapital adalah nilai yang utama. Globalisasi dianggap sebagai takdir dan merupakan hasil perkembangan tak-terelakkan dari sejarah manusia. Tindakan-tindakan ‘yang benar’ haruslah berkaitan dengan norma dan nilai yang dibawa ‘Sang Perwujudan’. Kita baru dianggap rasional bila membenarkan nilai dan norma tersebut. Padahal, dalam kacamata Schopenhauer, penggerak utama dari pencarian sebesar-besarnya keuntungan dan mengakumulasinya ini tiada lain dan tiada bukan adalah Kehendak buta yang selalu tidak pernah puas. Tidak ada rasio dalam perang pendudukan demi minyak di Timur Tengah. Tiada pula ada takdir Tuhan dalam penindasan dan eksploitasi kaum pekerja di seluruh dunia. Tapi, meski demikian manusia selalu saja mencari-cari pembenaran atas segala yang terjadi. Entah dalam bentuk logika memberantas terorisme atau ‘mengamankan’ bangsa dan negara dari anasir-anasir subversif. Para ‘pemberontak’ di pedalaman Papua diangap penggangu keamanan nasional; buruh-buruh yang menuntut kenaikan upah dianggap orang tak tahu diri.

Itulah gambaran dunia kita. Dunia rasional yang berakar dalam kekuatan Irasional: Kehendak untuk akumulasi kapital. Lalu apa yang harus kita lakukan? Entahlah, saya sendiri bukan dokter peradaban yang punya resep-resep siap pakai untuk siapa pun di mana pun. Sayang sekali memang. Tetapi kalo boleh usul kita mesti melakukan perlawanan. Bukan secara langsung kepada Kehendak buta sebagai dasar metafisik realitas kejam ini. Mungkin kita bisa melakukan perlawanan kepada rasionalisasi kenyataan. Akuilah bahwa (tidak) semua yang ada sebagai sesuatu yang rasional. Jangan pula meyakini seratus persen bahwa semua ada hikmahnya. Ada banyak fenomena yang tidak ada hikmahnya. Tidak perlu takut dianggap sebagai murid Machiavelli atau Nietzsche. Jangan pula gentar dianggap kafir karena mengikuti Buddha dalam beberapa hal. Kenapa menggabungkan Machiavelli, Nietzsche, dan Sang Budha dalam satu kamar? Bukannya mereka berbeda? Memang. Memang mereka berbeda dalam jalan keluar, tetapi mereka menemukan ‘sebab’ yang sama: realitas tidak berakar dari Rasio, Keteraturan, Tuhan dan sejenisnya itu; realitas hanyalah pantulan dari Kehendak Irasional yang sama sekali tak punya tujuan. Tidak ada ujung sejarah yang lebih baik dari saat ini. Sejarah tiada lain adalah pertarungan antara yang menindas dan yang tertindas. Kebenaran tiada lain adalah kebenaran mereka yang menindas. Memang kita tidak perlu sejalan dengan Arhat yang menyingkir dari dunia nyata ke kesunyian sebagai jalan satu-satunya bebas dari penderitaan. Kita harus seperti Bodhisatva yang terjun ke dunia untuk ‘membebaskan’ manusia dari jerat Maya; Maya yang mengelabui kita dengan pandangan palsu bahwa realitas begitu indahnya, begitu damainya, begitu benarnya. Kini, Maya yang harus kita hadapi itu bernama Kapitalisme dan Demokrasi Liberal yang oleh Fukuyama dianggap sebagai akhir dari penemuan manusia. Tidak! Sejarah belum berakhir. Kapitalisme dan Demokrasi Liberal bukanlah satu-satunya sistem terbaik yang pernah dicipta manusia!

Sudah, sudahlah. Sepertinya kamu ngelantur tak jelas ke sana ke mari. Tafsir macam apa yang dengan sok tahu mengait-ngaitkan Schopenhauer dengan Karl Marx? Yang menghubung-hubungkan Dunia sebagai Kehendak dan Kapitalisme? Sudahlah jangan sok tahu begitu. Tidak ada risalah metafisika yang ditulis seburuk ini. Ya, mungkin tulisan ini seperti lanturan. Atau mungkin bukan mungkin, tapi memang benar-benar lanturan saja. Jadi, tulisan ini tidak usah ditanggap serius. Yang harus dihadapi serius adalah nyatanya penderitaan banyak sekali orang di kolong langit biru ini yang hidup dalam penghisapan sistem irasional bernama kapitalisme.

Malam sudah masuk. Kali ini sepertinya Dewi Imajinasi tidak mewahyukan cerita-cerita penutup seperti yang sering Dia lakukan minggu-minggu lalu. Yang ada di sudut meja tulis pun cuma selembar potongan koran berisi berita revisi undang-undang perburuhan

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments
,10:13 AM
Bunuh Diri dan Makna Hidup
I
Di suatu masa ada seorang miskin yang didera penderitaan dari segala pojoknya. Anak-anak kelaparan dan sekarat. Suami meninggalkannya entah ke mana. Penyakit di tubuhnya membuatnya ambruk. Hutang menumpuk dan pemberi hutang tak mau tahu. Andai dia tidak cepat mencapai dokter yang mahal, maka anak perempuannya akan mati dipangkuannya yang bau pesing. Tak ada yang bisa dihutanginya. Dia pergi dari kontrakan karena diusir sudah enam bulan tak membayar sewa. Dia mencari pertolongan. Dia berpaling dari Setan karena Setan adalah bapak segala kejahatan. Dia juga berpaling dari Tuhan karena Dia pilih kasih pada yang kaya. Akhirnya dia serahkan diri dan anak-anaknya pada Kematian karena Kematian tak pernah pilih kasih.

Bunuh diri, atau mengakhiri hidup sendiri dengan wewenang sendiri belum menjadi tema yang penting dalam diskusi serius di negri kita. Perhatian terhadap bunuh diri masih sekadar laporan-laporan media massa tentang kasus-kasus bunuh diri beberapa TKW, penduduk melarat di Gunung Kidul, atau anak SD yang berusaha bunuh diri. Suatu hari teman saya mengajak diskusi membahas secuil persoalan etika yang biasa muncul dalam perdebatan mengenai moralitas orang untuk bunuh diri: apakah bunuh diri sesuatu yang baik atau buruk?.

Teman saya sepakat dengan pendapat bahwa membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain dengan paksa merupakan tindakan yang secara moral jahat. Tetapi, mengenai keputusan mengakhiri hidup sendiri dengan wewenang sendiri, dia lebih sepakat pada penilaian bahwa hal tersebut harus dinilai dari otonomi tindakan yang dilindungi oleh hak untuk menentukan diri sendiri. Pada umumnya ada dua pandangan mengenai tindakan bunuh diri. Pertama, bunuh diri merupakan suatu tindakan yang secara moral netral, tidak baik dan tidak jahat, selama dilakukan dalam kerangka otonomi diri. Bahkan sayap ekstrim pendukung pendapat ini menyarankan tindakan bunuh diri sebagai salah satu solusi atas persoalan hidup. Saya pikir kita tak usah membahas gagasan yang kontroversial ini.

Pandangan kedua menyatakan bahwa bunuh diri adalah tindakan yang secara moral jahat dan karenanya terlarang. Sebagian besar pendukung pandangan ini mendasarkan diri pada argumentasi teologis. Tuhan melarang tindakan tersebut karena hak hidup dan matinya seseorang hanya Tuhanlah yang berhak mengendalikannya. Dengan kata lain, membunuh atau bunuh diri merupakan tindakan jahat yang mencampuri urusan Tuhan. Argumentasi ‘pemendekan hidup sebagai tindakan jahat’ tidak hanya menyandarkan diri pada sosok Tuhan. Kadang ‘Tuhan’ diganti dengan ‘norma budaya’, ‘kehidupan yang suci’, masyarakat, dan ‘kebaikan bersama’, dan sebagainya.

Dalam diskusi itu saya tidak mengajukan argumentasi untuk memilih salah satu pandangan tersebut. Saya, dan teman saya juga, hanya mengajukan keberatan atas proposisi yang dikemukakan pendukung anti-bunuh diri. Terutama menyoroti kelemahan kaitan logis antara keyakinan tertentu dengan sikap anti-bunuh diri mereka.

Sebagian orang berpandangan bahwa hidup itu bermartabat pada dirinya sendiri. Pandangan ini tidak hanya datang dari orang saleh, teolog, atau praktisi agama yang laris di televisi nasional. Pandangan ini juga datang dari orang-orang ateis yang menganut pandangan hidup bahwa hidup adalah kehidupan tubuh seperti Nietzsche, misalnya. Nietzsche (1844-1900), filsuf Jerman pencetus peringatan ‘Tuhan Telah Mati’ itu, menyatakan dengan sinis dalam salah satu aforismanya:

“Menyerah. Itulah keinginan dirimu, karena itulah kalian menjadi pembenci tubuh... Mereka adalah orang-orang yang jiwanya sakit.
Tidak lama setelah mereka dilahirkan, mereka sudah mulai mati.
Mereka mengkhotbahkan perlawanan terhadap hidup dan semoga mereka kemudian sungguh-sungguh menerapkannya kepada diri mereka sendiri!”.

Nietzsche menyindir Schopenhauer, filsuf pesimis Jerman yang pernah dikaguminya, yang percaya pada tindakan bunuh diri sebagai perlawanan terhadap kehendak-irasional-untuk-hidup yang mendasari keberadaan semesta yang penuh penderitaan ini. Jean-Paul Sartre pun demikian. Bagi ateis dari Prancis ini, pilihan pada bunuh diri berarti mengakui nilai yang dikandung kehidupan. Padahal, seperti halnya pandangan Albert Camus, hidup itu absurd; hidup itu tanpa makna sama sekali. Hidup (dan mati tentunya) tidak baik dan tidak buruk pada dirinya sendiri. Misalnya dia katakan:

“...namun maut itu kutolak dengan segala kekuatanku; bukan karena aku menyukai kehidupanku, tetapi sebaliknya, karena aku tidak menggemarinya. Semakin absurd hidup, semakin maut tidak dapat diterima.”

Bagi kaum nihilis tersebut, bunuh diri berarti membenarkan bahwa hidup itu memunyai makna, yaitu ‘buruk’. Padahal tidak ada nilai apapun di balik kehidupan dan kematian.

Berbeda dengan para ateis ini, argumentasi anti-bunuh diri dari kalangan praktisi agama bersandar pada bernilainya hidup karena hidup adalah anugrah Tuhan yang Mahakasih. Tingginya martabat hidup manusia karena Tuhan memberi jiwa pada manusia yang mengemban misi tertentu yang kiranya penting di dunia ini. Hanya Tuhanlah yang berhak atas hidup-matinya seseorang. Jadi, bunuh diri, seperti halnya membunuh, jahat secara moral karena kita melangkahi hak Tuhan atas hidup-mati kita.

Keberatan terhadap kedua pandangan anti-bunuh diri dari dua kubu, yang secara ironis, bersebrangan di atas bisa diringkas sebagai berikut: Pertama, entah kehidupan itu absurd atau tidak, bagi sebagian orang, hidup memang tidak layak dilanjutkan. ‘Keabsurdan’ hidup tentu suatu yang ‘absurd’ bagi orang biasa. Keabsurdan ini hanya dipahami para filsuf yang punya kemewahan memikirkannya. Bagi sebagian besar orang yang menghadapi kehidupan di luar kafe atau kantor kerja universitas, kadang kala hidup begitu menyakitkan dan rasanya tidak layak dilanjutkan. Padahal, untuk terus bertahan hidup mereka perlu jalan keluar atau semacam persinggahan nyaman dari segala tekanan hidup. Orang perlu persinggahan-persinggahan yang mengabarkan sisi nikmatnya hidup. Kemiskinan yang menyesakkan, rasa malu sosial sebagai orang-orang kalah, keterpinggiran, penyakit tak tersembuhkan yang menyiksa, ketidakjelasan identitas dalam dunia yang serba palsu, dan persoalan hidup lain yang datang bertubi-tubi, yang kadang dibangkitkan oleh sesuatu yang menurut kita sepele; bisa menjadi pembenar bahwa dunia tidak absurd, tetapi memunyai makna, yaitu bahwa ‘kehidupan itu buruk’.

Bagi sebagian orang yang memiliki saluran ventilasi dari persoalan hidup yang berat mungkin hidup masih bisa dilanjutkan. Bagi mereka yang bisa membeli musik, seks, sastra, narkotika, naik haji ke Makah atau ziarah ke Lourdes, atau menikmati hingar-bingar ideologi, tentu hidup yang runyam bisa disegarkan kembali. ‘Percobaan-percobaan’ hidup yang kejam bisa mereka jinakkan dengan menikmati ‘kenyataan lain’.

Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu menjangkau semua ventilasi tersebut? Di sinilah agama punya peran penting. Hal inilah yang bisa menjawab sebagian pertanyaan mengapa agama masih bertahan hingga kini. Meskipun sudah diguncang berulang-ulang oleh pemikiran dan praktik anti-agama, agama masih tetap bertahan. Karl Marx, filsuf pencetus komunisme ilmiah itu, percaya bahwa agama adalah bius yang meredakan rasa sakit dalam penderitaan manusia. Agama menyediakan pembaringan dan selimut di kala badai hidup menghampiri. Para praktisi agama tidak perlu cemas kehilangan pekerjaan di masa posmodern ini. Justru di masa ketika kehidupan begitu buruklah, agama bisa bermanfaat dengan baik. Agama menyediakan bius pembuai. Agama menawarkan sorga untuk kesabaran; hikmah untuk penderitaan; dan takdir untuk kesulitan hidup. Tapi sekarang, profesional agama tahu daya jual sebuah kepercayaan. Semakin lama, agama semakin mahal. Buku, kyai, ustad, pengkhotbah, pesantren, mimbar, kian tak-terjangkau rakyat miskin di pinggiran ‘masyarakat adil dan makmur’. Mungkin menghadiri dzikir Arifin Ilham atau Aa Gym tidak akan dipungut bayaran. Mendengarkan khotbah-khotbah pendeta Lumoindong yang menggugah semangat mungkin tak perlu bayar. Tapi sebagai praktek sosial, mengunjungi mimbar-mimbar seperti itu memerlukan modal: uang lebih, jaringan sosial, pengetahuan, waktu luang, rasa percaya diri, dan baju yang wangi. Tidak semua orang memunyai semua perangkat kemewahan ini.

Jadi, menurut saya, ketika orang tidak memunyai perangkat kemewahan sebagai saluran pembuangan atas tekanan kehidupan, dan keyakinan tertentu bertentangan dengan kenyataan yang nyata-nyata dihadapi, maka kenyataanlah yang harus dijadikan dasar pertimbangan menilai tindakan bunuh diri secara moral. Semua spekulasi apakah hidup itu bermartabat, sakral, hak prerogatif Tuhan, jiwa suci yang memunyai misi, atau absurd, tidak harus menjadi imperatif yang lebih diutamakan daripada kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa hidup tidak perlu dilanjutkan.

Kedua, keyakinan bahwa menggugat hidup-mati merupakan penghinaan terhadap Tuhan, dalam upaya menolak tindakan bunuh diri sebagai sebagai alternatif, menurut saya mengandung suatu ketidakselarasan pada dirinya sendiri dengan kenyataan. Jika, seandainya, saya percaya pada Tuhan yang memunyai aturan yang, secara spekulatif, tidak bertentangan, dan kemudian Tuhan melarang bunuh diri karena hidup-mati adalah urusanNya, serta dengan alasan karena pemendekan hidup lewat bunuh diri merupakan campur tangan manusia, maka kita juga musti beranggapan bahwa Tuhan melarang pengobatan dan penyembuhan medis. Karena, bagaimanapun, perpanjangan hidup, sebagaimana perpendekannya, akan merupakan suatu usaha campur tangan manusia atas urusan Tuhan.

Jadi, argumentasi tentang kuasa hidup-matinya seseorang di tangan Tuhan yang diajukan untuk menolak tindakan bunuh diri serta mencap pelakunya sebagai salah secara moral, adalah kurang mengena jika kita menilai sebaliknya atas usaha memperpanjang hidup. Tetapi, orang kemudian mengajukan alasan bahwa hidup itu berharga. Buktinya semua masyarakat mempunyai aturan yang menghukum pembunuh.

Itulah dua kesimpulan sederhana atas persoalan moralitas di sekitar bunuh diri yang menjadi sekadar bahan urun rembuk dalam diskusi tentang bunuh diri. Berikutnya saya coba berspekulasi tentang asal-usul bunuh diri.

II
Penderitaan manusia modern yang terbesar adalah tenggelam dalam kesunyian. Nilai tinggi yang diberikan pada hidup dan kehidupan bersumber pada ketakutan manusia pada kesunyian. Kematian adalah kesunyian yang paling padat. Karenanya manusia menciptakan agama, surga, neraka, klenik, suprantural, pahlawan, monumen, atau Tuhan untuk membunyikannya. Manusia secara kultural mau menaklukan semua kesunyian. Peradaban, menurut Kierkegaard, pemikir pilu yang nyentrik dari Kopenhagen, adalah hasil upaya membunyikan kesunyian yang ada di hadapan manusia. Aristoteles sendiri percaya bahwa satu perilaku yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah keingintahuan sistematis terhadap segala sesuatu yang ‘tidak diketahui’; atau dengan kata lain segala sesuatu yang sunyi.

Dalam kesunyian, bersemayamlah kecemasan (angst) atau ketakutan pada yang tak-jelas. Semua kesunyian harus berbunyi. Freud membunyikan bawah sadar, Everest membunyikan puncak gunung, Amstrong membunyikan angkasa, Bohr membunyikan atom, Hawking membunyikan semesta, Einstein membunyikan ruang-waktu, Amerigo dan Columbus membunyikan ‘dunia baru’, para nabi membunyikan kehidupan pasca-kematian, semuanya coba dibunyikan manusia untuk menguasainya.

Berkenaan dengan bunuh diri, para pelakunya mungkin merasakan bahwa kehidupan yang runyam-apapun batasan runyam tersebut-adalah kesunyiannya. Dengan menghentikannya orang membunyikan kesunyian itu.

Seperti diungkap di atas, agama bisa membunyikan kehidupan yang runyam dengan konsep-konsep seperti suratan takdir, hikmah, dosa, surga, atau teori-teori seperti ‘orang sabar dikasihi Tuhan’, ‘semua kesulitan adalah ujian’, atau ‘semua pasti ada hikmahnya’. Tetapi teolog perkotaan menyuarakan bahasa yang aneh dan mahal untuk semuanya. Agama tak lagi mudah dijangkau.

Agama berkembang secara evolutif. Termasuk dengan konsep-konsep yang ditawarkannya. Semakin kini, karena kegiatan teolog di pusat-pusat surplus ekonomi, konsep-konsep keagamaan kian rumit dan dengan ‘bahasa asing’ pula ia disebarkan. Karenanya dalam reformasi Luther, yang pertama dilakukan adalah mengajarkan Kabar Baik lewat bahasa lokal dan menjadikan nyanyian rakyat sebagai pengganti lagu-lagu Gregorian. Segala kerumitan konsep-konsep keagamaan yang diungkap dengan istilah-istilah yang kompleks di mata orang biasa, direproduksi terus-menerus untuk melanggengkan kekuasaan profesi ‘agamawan’. Para teoritisi kepercayaan tersebut menggunakan istilah-istilah kompleks seperti halnya dokter memperlakukan nama-nama penyakit dan diagnosanya. Kuasa pengetahuan diwacanakan untuk kelanggengan profesi mereka. Agamawan bicara agama di televisi atau radio FM tentang manfaat berhaji, penerapan syariat, peradaban agama yang agung di masa lalu, atau pemerintahan Tuhan di bumi. Para pengkhotbah menceramahkan keadilan dan kesederhaan di tempat-tempat ibadah megah; tempat ibadah yang menolak bau dan kumal jemaat mlarat.

Andai evolusi agama-agama hanya mereproduksi Zainuddin MZ, Aa Gym, Arifin Ilham, atau Pendeta Lumoindong, maka Tuhan akan lebih mirip badut gendut yang disewa orang kaya untuk ulang tahun anaknya. Orang melarat semakin sulit menjangkau ‘agama-Nya’. Bunuh diri, yang bisa berarti ketiadaan nilai ‘hidup-dalam-kasihNya’, mungkin akan jadi pilihan favorit orang-orang kalah. Lalu, masih berhakkah kita menghukum pelaku bunuh diri sebagai imoral? Ataukah kita biarkan upaya tersebut sebagai jalan alternatif membunyikan hidup yang buruk?

Simpulnya ada pada jawaban atas pertanyaan: “Seberapa banyak Bunda Theresa di negeri kita yang ‘bertuhan’; yang berkeras menerjemahkan konsep abstrak kemahakasihan Tuhan dalam praktik kesehariannya?”

Labels:

 
posted by abdulkarim_aljabar
Permalink ¤ 0 comments